MAAFKAN AKU BUNDA



                Namaku joko waluyo aku adalah seorang siswa kelas XI ipa di sma negri 1 sukodadi, aku yang selalu hidup bersantai-santai, aku juga termasuk orang yang mudah untuk marah dan sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain. Cerita ini dimulai ketika aku kelas VII smp dulu ketika smp teman-teman ku banyak yang mengejekku karena namaku yang jelek, ketika aku di ejek teman-temanku yang aku salahkan adalah kedua orang tuaku terutama kepada ibuku karena yang memberi nama ini adalah ibuku, aku meminta ibuku untuk merubah namaku akan tetapi tidak kunjung ditanggapi berkali-kali aku bicara kepada ibuku “ bu tolong ganti namaku ibu kok bodoh sekali ngasih nama anak kok jelek sekali!”  akan tetapi ibuku hanya membalasnya dengan senyuman. Ketika itu orang yang aku benci adalah ibuku sendiri hingga aku pernah berkeinginan untuk kabur dari rumah tapi ibu menyadarkanku dengan sabar, tapi entah setan apa yang merasuki badanku aku tidak kunjung bisa menerima nama ini.
              Hingga suatu kejadian menimpa temanku dia ditinggal ibunya meninggal bukan duka yang aku ucapkan kepada temankku akan tetapi sebuah kata “ beruntung sekali kamu ditingga ibumu” tiba-tiba temanku menamparku dan berkata “rasa sakit tamparanku hanya sedikit dari sakit yang kau gores dihati ibumu, apakah engkau masih pantas hidup ketika selesai melontarkan kata-kata itu?, apakah engkau tidak menyadari bukanya engkau dikandung 9 bulan ibumu rela sebagaian makanannya engkau makan engkau bagaikan parasit di perutnya, apakah engkau lupa nyawa ibumu dipertarukan ketika kelahiranmu?, apakah engkau lupa ketika engkau tidak bisa makan ibumu menyusuimu, apakah engkau lupa ketika kamu mulai belajar berjalan siapakah yang menyemanggatimu membantumu untuk bisa berjalan?,  tampa kenal lelah ibumu menyayangimu dengan sabar nya ibumu menyikapi perasaanmu, apakah ini hal yang engkau berikah atas apa jasa-jasa ibumu ” kemudian temanku meninggalkan ku , kata-kata teman ku terus terfikir difikiranku setiap hari aku terus merenungkan kata-kata itu, dan terlintas difikiranku apakah ketika ibuku tiada akan merubah segalanya?, apakah ketika ibuku tiada aku akan bahagia? Apakah itu bisa menyelesaikan semuanya?.
           Setiap aku memikirkan itu air mataku terus bercucuran seraya aku membayangkan ketika datang waktu ibuku meninggal.
Pagi itu ibuku pergi kepasar untuk belanja, ketika ibuku pergi kepasar aku menemui ayahku dan bertanya “yah kenapa ibu bodoh banget sih kasih nama anaknya kok jelek sekali ?, tanyaku kepada ayah yang sedang duduk di ruang tamu
Ayahku menjawab dengan nada-nada marah “jaga bicaramu kamu sekolah diajarin apa? Kok tidak tau sopan santun kepada orang tua? ”
“habisnya namaku jelek banget” sahutku
“kamu mau tau arti namamu?” jawab ayahku

“emangnya apa yah?”
“dulu ibumu perna hampir mau ketabrak mobil ketika sedang mau kepasar dengan pamanmu asal kamu tau paman mu namanya sama dengan namamu, ibu mu menilai pamanmu adalah sosok laki-laki yang hebat, jujur, bertanggung jawab, dan orang yang berjasa dihidupnya. Tapi sayang  pamanmu meninggal saat menulong ibumu, pamanmu mendorong ibumu sehingga dia yang tewas tertabrak mobil, begitu rasa sayangnya kepada pamanmu ibumu pera menginap 1 malam di makam pamanmu”
Ketika mendengar cerita itu aku sadar, jadi nama ini adalah nama yang paling berjasa dalam kehidupan ibuku yang paling disayang ibuku, kenapa aku sekejam itu kepada ibuku kenapa?
Siang setelah pulang dari pasar ibuku langsung masak nasi kuning aku penasaran dan bertanya “bu kenapa kok buat nasi kuning?”
Nanti kamu akan tau sendiri” jawab ibuku sambil tersenyum kepadaku
“bu jawab dong” tanyaku memaksa
“katamu namumu jelek, nama mu itu nama yang paling bodoh” sekarang ibu mau buat acara tasakuran untuk merubah namamu yang lebih bagus
“ketika aku mendengar kata-kata itu aku memeluk ibuku, aku menanggis dan berkata maafkan aku bu selama ini aku selalu membenci ibu, aku ingin nama ini, aku ingin jadi orang yang berjasa dikehidupan ibu”
Ibuku menggis dan menjawab “tidak usah begitu tidak apa-apa namamu diganti, hmmmm hayo laki-laki itu harus kuat tidak bpleh menanggis
“ibu juga menanggis” jawabku
“tidak, ibu tidak menanggis, mata ibu Cuma perih kena bawang merah” bela ibu  sambil mengusap air mata
“ibu aku mohon jagan ganti namaku iya dan tolong maafkan kesalahanku selama ini” kataku dengan wajah-wajah sedih
“Iya-iya” jawab ibu

No comments:

Post a Comment