Catatan Mantan Playboy - Day 2 - Nostalgia part 1



Bicara soal kemampuan seperti halnya kuda istana yang menarik kereta sang ratu, logikannya tidak mungkin semut lemah akan digunakan untuk menarik kereta. Selain itu kuda tersebut terpilih bukan hanya karena kekuatan yang menjadi factor utama. Namun, faktor beruntungan juga berperan didalamnya. Berbeda dengan kuda-kuda biasa yang hanya dapat menarik kasta bawah tentu fasilitas yang dapatkan juga berbeda.  Jika diujian masuk aku diibaratkan semut yang ingin menarik kereta ratu, tentu kusirnya akan menolakku. kalau aku diibaratkan kuda pada umumnya jika tidak beruntung tetep saja aku tidak bias menarik kereta istana. Ya, menjadi kuda istana bukanlah tujuanku. Entah dimana aku berada, aku hanya ingin menjadi bermanfaat.
Ibuku selalu memarahiku dan terus menyuruhku untuk belajar. Menurut beliau
belajar adalah hal yang paling wajib yang harus aku kerjakan. Awalnya aku setuju dengan pendapat itu dan mulai belajar tapi tak genap 10 hari rasa malas menghampiriku. ‘Tidur-tidur’ yang ada dalam pikirinku, aku memilih untuk tidur bukan karena aku suka tidur hanya saja ketika aku keluar untuk bermain dengan teman sebayaku jangut orang tua ku akan terbakar.
Masih terukir jelas dalam kepalaku pengalaman saat kelas 5 SD, entah ini pengalaman yang menyenangan atau menyeramkan? Waktu itu aku merasa sangat bosan karena dikurung di rumah bagai putri Rapunzel. Sejak kecil ibu melarangku untuk bermain keluar rumah, anehnya saat aku bertanya alasanya, beliau hanya terdiam membisu dan melamun. Seketika itu rengekanku membangunkan beliau dari lamunannya, ekspresi tidak sedap seakan ingin marah ditujuhkan kepadaku, “Tidak boleh ya tidak boleh,” tutur ibuku. Wajah imutku seketika berubah menjadi ekspresi sedih dan tangisan keras kulantunkan “Sudah jagan menagis! Cowok harus kuat seperti ayahmu!” ucapan ibuku waktu itu yang sampai saat ini ku ingat.
Karena rasa bosan yang haus akan kesenangan dan takut kejadian itu terulang akhirnya aku memutuskan untuk bermain diluar rumah tanpa sepengetahuan ibu. Seperti biasa rumahku selalu dikunci dari dalam dan kuncinya disimpan entah dimana oleh ibu, tak kehabisan akal aku naik kemeja belajar dan keluar lewat candela kamar. ‘Tinggi’ memang cukup tinggi untuk ukuran anak 5 SD ‘lalu bagaimana aku turunya? Takut iya aku sangat takut bagaimana kalau aku nanti jatuh? Bagaimana nanti kalau aku terkena paku?’ tidak terbesit pikiran seperti itu padaku, yang penting aku dapat keluar dari sini dan menghilangkan kebosananku.
Setelah berhasil keluar dari rumah aku langsung pergi kesekolah yang tidak jauh dari rumahku, berharap ada seseorang yang bias menghilangkan rasa kebosanan. Saat dijalan terlihat Aan yang sedang membawa pancing.
“Rel? Kamu Farel kan?”
“Iya,”
“Apa, sujak kapan ibumu boleh kamu main diluar?” Tanya Aan.
“…” Aku hanya terdiam
“Ah sudah lah itu tidak penting! Gimana kalau kita main di rawa dekat desa?”
“Sepertinya asyik tu? Tapi aku tidak bias berenang,”
“Ah tidak apa-apa.”
Akupun mengikuti Aan dan pergi ke rawa. Rawa yang diberi nama Balung Ganggang  letaknya sebelah barat desa, luas nya hampir dua kali lebih besar dari desa ku.



                                                                                                              Kira-kira apa yang akan  terjadi
                                                                                                            dengan aan dan Farel nantikan 
                                                                                                            kelanjutannya Bersambung.......

No comments:

Post a Comment