Bicara soal kemampuan seperti
halnya kuda istana yang menarik kereta sang ratu, logikannya tidak mungkin
semut lemah akan digunakan untuk menarik kereta. Selain itu kuda tersebut
terpilih bukan hanya karena kekuatan yang menjadi factor utama. Namun, faktor
beruntungan juga berperan didalamnya. Berbeda dengan kuda-kuda biasa yang hanya
dapat menarik kasta bawah tentu fasilitas yang dapatkan juga berbeda. Jika diujian masuk aku diibaratkan semut yang
ingin menarik kereta ratu, tentu kusirnya akan menolakku. kalau aku diibaratkan
kuda pada umumnya jika tidak beruntung tetep saja aku tidak bias menarik kereta
istana. Ya, menjadi kuda istana bukanlah tujuanku. Entah dimana aku berada, aku
hanya ingin menjadi bermanfaat.
belajar adalah hal yang paling wajib
yang harus aku kerjakan. Awalnya aku setuju dengan pendapat itu dan mulai
belajar tapi tak genap 10 hari rasa malas menghampiriku. ‘Tidur-tidur’ yang ada dalam pikirinku, aku memilih untuk tidur
bukan karena aku suka tidur hanya saja ketika aku keluar untuk bermain dengan
teman sebayaku jangut orang tua ku akan terbakar.
Masih terukir jelas dalam kepalaku
pengalaman saat kelas 5 SD, entah ini pengalaman yang menyenangan atau
menyeramkan? Waktu itu aku merasa sangat bosan karena dikurung di rumah bagai
putri Rapunzel. Sejak kecil ibu melarangku untuk bermain keluar rumah, anehnya
saat aku bertanya alasanya, beliau hanya terdiam membisu dan melamun. Seketika
itu rengekanku membangunkan beliau dari lamunannya, ekspresi tidak sedap seakan
ingin marah ditujuhkan kepadaku, “Tidak boleh ya tidak boleh,” tutur ibuku. Wajah
imutku seketika berubah menjadi ekspresi sedih dan tangisan keras kulantunkan “Sudah
jagan menagis! Cowok harus kuat seperti ayahmu!” ucapan ibuku waktu itu yang
sampai saat ini ku ingat.
Karena rasa bosan yang haus akan
kesenangan dan takut kejadian itu terulang akhirnya aku memutuskan untuk
bermain diluar rumah tanpa sepengetahuan ibu. Seperti biasa rumahku selalu
dikunci dari dalam dan kuncinya disimpan entah dimana oleh ibu, tak kehabisan
akal aku naik kemeja belajar dan keluar lewat candela kamar. ‘Tinggi’ memang cukup tinggi untuk ukuran
anak 5 SD ‘lalu bagaimana aku turunya? Takut
iya aku sangat takut bagaimana kalau aku nanti jatuh? Bagaimana nanti kalau aku
terkena paku?’ tidak terbesit pikiran seperti itu padaku, yang penting aku
dapat keluar dari sini dan menghilangkan kebosananku.
Setelah berhasil keluar dari
rumah aku langsung pergi kesekolah yang tidak jauh dari rumahku, berharap ada
seseorang yang bias menghilangkan rasa kebosanan. Saat dijalan terlihat Aan yang
sedang membawa pancing.
“Rel? Kamu Farel
kan?”
“Iya,”
“Apa, sujak
kapan ibumu boleh kamu main diluar?” Tanya Aan.
“…” Aku hanya
terdiam
“Ah sudah lah
itu tidak penting! Gimana kalau kita main di rawa dekat desa?”
“Sepertinya
asyik tu? Tapi aku tidak bias berenang,”
“Ah tidak
apa-apa.”
Akupun mengikuti Aan dan pergi ke
rawa. Rawa yang diberi nama Balung Ganggang letaknya sebelah barat desa, luas nya hampir dua
kali lebih besar dari desa ku.
Kira-kira apa yang akan terjadi
dengan aan dan Farel nantikan
kelanjutannya Bersambung.......

No comments:
Post a Comment