Bunda, masih ingatkah 17 tahun yang lalu.
Waktu itu,
aku parasit di tubuhmu.
Bunda, apa aku
boleh bertanya?
Kenapa engkau
rela tertempel parasit?
Kenapa engkau
tidak marah?
Kenapa
engkau tidak
pernah mengeluh?
Dari
dalam, aku melihatmu tersenyum.
Sunguh
cantik dirimu kala itu.
Bunda,
dari luar kau membelaiku.
Rasanya
hangat sekali.
Bunda maafkan
aku!
Aku
menendang-nendang perutmu.
Tapi kenapa bunda
diam saja?
Malah
mengelusku lalu tersenyum.
Bunda, aku takut!
Aku
takut, bunda meminta uang kontrakan.
Meski
disini gelap aku sangat nyaman.
Bunda, maaf aku tidak punya uang.
Yang
ku punya hanya ucapan terimakah saja.
Maaf
ya bun! Love You.
Lamongan, 28 Desember 2014
(Ku persembahkan puisi untukmu bunda, aku sangat
mencintaimu. Semoga engkau tetap sehat wanita nomor 1 di Duniaku)

No comments:
Post a Comment