Catatan Mantan Playboy - Day 2 - Nostalgia part 2


“Ayo Rel!” ucap Ann sambil mengandeng pundak ku.
Farel nama pemberian ayah padaku, tidak ada special dengan nama tersebut, ataupun artian dan doa khusus dalam nama itu, yang pasti akrab dipanggil Rel. Berbeda dengan aku yang memiliki kakak perempuan, Aandiya Anak perempuan yang akrab di panggil Aan adalah anak tunggal, meski begitu dia anak yang ceria dan suka bercanda hanya saja terkadang dia tidak bisa baca situasi. Bukan hal aneh saat pelajaran sekolah berlangsung dia nyeletuk dan berkata-kata meleset dari topik dan tidak jarang guru marah kepadanya.
Meski sudah lima tahun bersamanya, aku masih tidak paham dengan jalan pikirannya.
“Woy, Rel tau gak kenapa di sawah itu dipasang orang-orang sawah?”
“Kan kamu sudah tau, kata Pak Syukur kemarin di kelas buat ngusir burung,”
“Salah!”
“Lah trus?”
“Buat kampanye partai, hahahaha,” ucap Ann tertawa  puas

“Ha? kog bisa?” tanyaku heran
“Hehehe, liat orang-orang sawah sebelah sana! Apa yang kamu liat?”
“Orang-orang sawah pakai baju partai,”
“Perhatikan lebih teliti, di sawah itu tidak ada padi kan, hehehe!”
“Oh, ya benar juga,”
“Kata ayah ku kira tidak boleh terlalu percaya terhadap orang lain tanpa kita sadari orang lain bisa mengambil keuntungan dari kita,”
Waktu itu aku kurang paham dengan apa yang di maksud Ann, ya anak kelas lima SD, hanya saja aku merasa heran di umur segitu dia sudah mengerti hal yang rumit.

Waktu terus berjalan akhirnya kita sampai di rawa Balung Ganggang. Pemandangan hamparan air yang luas, udara sejuk, agin sepoi yang membuat pohon bambu seakan bergoyang melambai memanggil untuk menikmati ciptaan tuhan dan banyak warga yang mencari ikan menjadi nilai tambah tersendiri. Melihat pemandangan tersebut rasa bosan seakan menghilang.

“Rel di tempat setenang ini dirumorkan banyak buaya lho,”
“Ah masa?” jawabku heran
“Iya, tak selamanya tempat yang aman bisa selamanya aman,”
“hooo,” jawabku heran
“Ayo kita kepinggir rawa untuk cuci muka!”
Aku segera berjalan menuruni dataran tinggi dan sampai di tepi rawa, tanah yang tertutup rumput namun masih terasa licin untuk di tapak, terlihat banyak bunga terati mengambang di atas rawa sebagian sudah ada yang mekar. Waw sunguh indah pemandangan ciptaanmu tuhan.
“Hahah, segar sekali Rel, sini!” ucap Ann sambil menyiram air ke mukaku.
“Hai jangan bercanda awas nanti terpleset,”
“Hahaha, tenang aku bisa berenang, sini aku tunjukkan!” ucap Aan sambil menjeburkan tubuhnya ke rawa yang tidak tahu kedalamannya.
“Lihat aku pintar berenang kan? Hahaha,”
“Hati-hati!” ucapku kuwatir
***
Selang Lima menit kemudian.
“Aduh,” ucap Aan
“Kenapa An? Kamu jangan bercanda!”
“Tiba-tiba kaki ku……


Kira-kira apa yang akan  terjadi
                                                                                                            dengan aan dan Farel nantikan 
                                                                                                            kelanjutannya Bersambung......

No comments:

Post a Comment