“Ayo Rel!” ucap
Ann sambil mengandeng pundak ku.
Farel nama pemberian ayah padaku,
tidak ada special dengan nama
tersebut, ataupun artian dan doa khusus dalam nama itu, yang pasti akrab dipanggil
Rel. Berbeda dengan aku yang memiliki kakak perempuan, Aandiya Anak perempuan
yang akrab di panggil Aan adalah anak tunggal, meski begitu dia anak yang ceria
dan suka bercanda hanya saja terkadang dia tidak bisa baca situasi. Bukan hal
aneh saat pelajaran sekolah berlangsung dia nyeletuk
dan berkata-kata meleset dari topik dan tidak jarang guru marah kepadanya.
Meski sudah lima tahun bersamanya,
aku masih tidak paham dengan jalan pikirannya.
“Woy,
Rel tau gak kenapa di sawah itu dipasang orang-orang sawah?”
“Kan
kamu sudah tau, kata Pak Syukur kemarin di kelas buat ngusir burung,”
“Salah!”
“Lah
trus?”
“Buat
kampanye partai, hahahaha,” ucap Ann tertawa puas
“Ha?
kog bisa?” tanyaku heran
“Hehehe,
liat orang-orang sawah sebelah sana! Apa yang kamu liat?”
“Orang-orang
sawah pakai baju partai,”
“Perhatikan
lebih teliti, di sawah itu tidak ada padi kan, hehehe!”
“Oh,
ya benar juga,”
“Kata
ayah ku kira tidak boleh terlalu percaya terhadap orang lain tanpa kita sadari
orang lain bisa mengambil keuntungan dari kita,”
Waktu itu aku kurang paham dengan
apa yang di maksud Ann, ya anak kelas lima SD, hanya saja aku merasa heran di
umur segitu dia sudah mengerti hal yang rumit.
Waktu terus berjalan akhirnya kita
sampai di rawa Balung Ganggang. Pemandangan hamparan air yang luas, udara sejuk,
agin sepoi yang membuat pohon bambu seakan bergoyang melambai memanggil untuk
menikmati ciptaan tuhan dan banyak warga yang mencari ikan menjadi nilai tambah
tersendiri. Melihat pemandangan tersebut rasa bosan seakan menghilang.
“Rel di
tempat setenang ini dirumorkan banyak buaya lho,”
“Ah masa?”
jawabku heran
“Iya, tak
selamanya tempat yang aman bisa selamanya aman,”
“hooo,”
jawabku heran
“Ayo kita
kepinggir rawa untuk cuci muka!”
Aku segera berjalan menuruni dataran tinggi dan sampai
di tepi rawa, tanah yang tertutup rumput namun masih terasa licin untuk di
tapak, terlihat banyak bunga terati mengambang di atas rawa sebagian sudah ada
yang mekar. Waw sunguh indah pemandangan ciptaanmu tuhan.
“Hahah,
segar sekali Rel, sini!” ucap Ann sambil menyiram air ke mukaku.
“Hai jangan
bercanda awas nanti terpleset,”
“Hahaha,
tenang aku bisa berenang, sini aku tunjukkan!” ucap Aan sambil menjeburkan
tubuhnya ke rawa yang tidak tahu kedalamannya.
“Lihat aku
pintar berenang kan? Hahaha,”
“Hati-hati!”
ucapku kuwatir
***
Selang Lima
menit kemudian.
“Aduh,” ucap
Aan
“Kenapa An? Kamu
jangan bercanda!”
“Tiba-tiba kaki ku……
Kira-kira apa yang akan terjadi
dengan aan dan Farel
nantikan
kelanjutannya Bersambung......
No comments:
Post a Comment