KLIPING
BAB I
“KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA AWAL SEJARAH”
Guru Pembimbing:
-
Disusun Oleh:
-
-
Kelas X 4
SMA NEGERI 1 SUKODADI
LAMONGAN
2015
BAB I
A.
Perkembangan
Fosil Manusia Purba di Indonesia
Penemuan manusia purba diawali
dengan kegiatan excavasi / penggalian di tempat-tempat yang diyakini terdapat
fosil-fosil manusia purba. penggalian dilakukan dengan teknik arkeologi agar
fosi tidak mengalami kerusakan. setelah digali, maka fosil akan dibersihkan
dengan bahan-bahan kimia tertentu, agar unsur-unsurnya tdk mengalami kerusakan.
Langkah selanjutnya adalah merekonstruksi / menyusun lagi fosil-fosil seprti
pada saat ditemukan. Penelitian ilmiah mengenai fosil dimulai pada akhir abad
ke-19. Penelitian Paleoantropologi manusia purba di Indonesia dapat dibagi
menjadi tiga tahapan, yaitu 1889-1909, 1931-1941, dan 1952 hingga sekarang.
Eugone Dubois menduga bahwa manusia purba pasti hidup di daerah tropis.
Menurutnya, hal ini disebabkan perubahan iklim sepanjang sejarah tidak banyak
dan di daerah tropis pula monyet serta kera masih banyak yang hidup. Ketika
datang ke Indonesia, Eugone Dubois mulai menyelidiki gua-gua di Sumatera Barat.
Namun, hanya tulang-tulang subresen yang ditemukan. Penemuan Eugena Dubois :
Dia adalah yang pertama kali tertarik meneliti manusia purba di Indonesia
setelah mendapat kiriman sebuah tengkorak dari B.D Von Reitschoten yang
menemukan tengkorak di Wajak, Tulung Agung.yang menyebabkan Dubois memindahkan
kegiatan penelitiannya ke daerah Jawa. Fosil kiriman itu dinamai Homo
Wajakensis, termasuk dalam jenis Homo Sapien (manusia yang sudah berpikir
maju). homo sapiens dengan isi volum otak kira-kira 1450 cm kubik hidup sekitar
15.000 hingga 150.000 tahun yang lalu. Temuan Dubois pertama, 1889, berupa
fosil atap tengkorak Pithecanthropus Erectus (phitecos = kera, Antropus
Manusia, Erectus berjalan tegak) ditemukan di daerah Trinil, pinggir Bengawan
Solo, dekat Ngawi, , tahun 1891. Volume otak Pithecanthropus erectus
diperkirakan sekitar 770 - 1000 cm kubik. Bagian tulang-belulang fosil manusia
purba yang ditemukan tersebut adalah tulang rahang, beberapa gigi, serta
sebagian tulang tengkorak.Temuan lainnya adalah Pithecanthropus Mojokertensis,
ditemukan di daerah Mojokerto dan Pithecanthropus Soloensis, ditemukan di
daerah Solo. Penemuan Selenka dan Tim : Pada 1907-1908, Selenka dan regunya
melakukan penyelidikan dan penggalian di Trinil. Namun, penggalian tersebut
tidak membuahkan hasil fosil manusia purba. Yang ditemukan berupa fosil hewan
dan tumbuhan yang dapat menambah referensi mengenai kehidupan manusia
Pithecanthropus Erectus. Penemuan Ter Haar dan Tim : Antara 1931-1933, Ter Haar
dan Oppenoorth melakukan pencarian di Ngandong, Blora. Dari hasil pencarian,
didapat penemuan yang sangat penting berupa tengkorak dan tulang kering
Pithecantropus Erectus. Satu seri tulang tengkorak yang besar jumlahnya dalam
masa pendek dan berada di satu tempat yang tidak begitu luas. Penemuan
Tjokrohandojo : Pada 1926, Tjokrohandojo yang bekerja di bawah pimpinan Duyfjes
menemukan fosil manusia purba anak-anak di daerah Perning, sebelah utara
Mojokerto. Penemuan ini adalah pertama kali ditemukannya fosil tengkorak
anak-anak di lapisan bawah Pleistosen Bawah. Penemuan Von Koenigswald : Antara
1936-1941, Von Koenigswald menemukan fosil-fosil rahang, gigi, dan tengkorak
Homo Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus juga fosil hewan di daerah
Sangiran, Surakarta. Penemuan ini terjadi di lapisan Pleistosen Tengah maupun
Pleistosen Bawah pada satu tempat dan memperlihatkan adanya variasi morfologis.
Perbedaan variasi tersebut, menurut para ahli, memiliki perbedaan pada tingkat
rasial, spesies, maupun genus. Yaitu, varian-varian yang berasal dari masa
lalu. Penemuan lain Fosil tengkorak di Ngandong, Blora. Tahun 1936, ditemukan
tengkorak anak di Perning berusia 5 tahun, Mojokerto. . Homo Sapien Soloensis
(Homo Soloensis), ditemukan oleh Von Koenigswald dan Weidenreich di
tempat-tempat antara lain : Ngandong Blora, Sangiran dan Sampung macan
(Sragen), lembah Sungai Bengawan Solo tahun 1931 – 1934. Penemuan lain tentang
manusia Purba ditemukan tengkorak, rahang, tulang pinggul dan tulang paha
manusia Meganthropus, Homo Erectus dan Homo Sapien di lokasi Sangiran, Sambung
Macan (Sragen),Trinil, Ngandong dan Patiayam (kudus). Penelitian tentang
manusia Purba oleh bangsa Indonesia dimulai pada tahun 1952 yang dipimpin oleh
Prof. DR. T. Jacob dari UGM, di daerah Sangiran dan sepanjang aliran Bengawan
Solo. Semua hasil penemuan fosil-fosil manusia purba pada tahap pertama disimpan
di Leiden dan temuan tahap kedua disimpan di Frankfurt (Jerman Barat). Akibat
adanya Perang Dunia II, pencarian Paleontropologi tertunda. Tahap ketiga baru
dimulai setelah Indonesia merdeka dan penemuan yang didapat disimpan di negara
tempat fosil tersebut ditemukan, Indonesia.
B. Jenis dan Ciri fosil manusia purba Indonesia dari yang
tertua :
Jenis fosil
manusia purba di Indoesia : Meganthropus Paleojavanicus (Sangiran).
Pithecanthropus Robustus (Trinil). Pithecanthropus Erectus (Homo Erectus) (Trinil).
Pithecanthropus Dubius (Jetis). Pithecanthropus Mojokertensis (Perning). Homo
Javanensis (Sambung Macan). Homo Soloensis (Ngandong). Homo Sapiens Archaic.
Homo Sapiens Neandertahlman Asia. Homo Sapiens Wajakensis (Tulungagung). Homo
Modernman
Ciri-ciri
manusia purba yang ditemukan di Indonesia :
1.
Ciri Meganthropus :
· Hidup antara 2 s/d 1 juta tahun
yang lalu
· Badannya tegak
· Hidup mengumpulkan makanan
· Makanannya tumnuhan
· Rahangnya kuat
· Tulang pipi tebal
· Terdapat tonjolan kening yang mencolok
· Tonjolan belakang yang tajam.
2.
Ciri Pithecanthropus :
· Hidup antara 2 s/d 1 juta tahun yang lalu
· Hidup berkelompok
· Hidungnya lebar dengan tulang pipi yang kuat dan
menonjol
· Mengumpulkan makanan dan berburu
· Makanannya daging dan tumbuhan
· Tinggi badan sekitar 165 -180 cm
· Volume otak 750- 1350 cc
· Bentuk tuuh dan anggota badan tegap
· Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat
· Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat
3.
Ciri jenis Homo :
· Hidup antara 25.000 s/d 40.000
tahun yang lalu
· Muka dan hidung lebar
· Dahi masih menonjol
· Tarap kehidupannya lebih maju
dibanding manusia sebelumnya
C. Pembagian Jaman kehidupan Awal Manusia
Zaman
dimana adanya kehidupan manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Dan zaman
ini dibagi lagi menjadi dua zaman yaitu yang disebut dengan zaman Pleistocen
dan Holocen atau Alluvium dan Dilluvium adalah pembagian zaman menurut Ilmu
Geologi. Jaman ini terdapat pada Zaman Neozoikum. Jaman ini dibagi menjadi
jaman tersier dan kuartier.Jaman tersier berlangsung sekitar 60 juta
tahun,binatang yang berkembang adalah mamalia/binatang menyusui.Jaman kuartier
adalah yang terpenting karena jaman ini dimulai adanya kehidupan manusia.Dan
jaman kuartier masih dibagi lagi ke dalam jaman Pleistosen dan Holosen.Jaman
Pleistosen(Dilluvium) berlangsung kira-kira 3 juta tahun sampai 10 ribu tahun
yang lalu.Jaman Pleistosen dimulai dengan meluasnya lapisan es di kedua kutub
bumi yang disebut jaman glasial,kemudian diselingi dengan jaman mencairnya
lapisan es disebut dengan jaman interglasial,keadaan ini berlangsung silih
berganti sampai empat kali.Kalau di daerah tropis jaman glasial berupa jaman
hujan(jaman pluvial),dan diselingi dengan jaman kering(interpluvial).Pada jaman
glasial,permukaan air laut turun dengan drastis,sehingga banyak dasar laut yang
kering menjadi daratan.Di Indonesia dasar laut yang kering di sebelah barat
disebut dengan dataran Sunda,dan menyebabkan kepulauan Indonesia bagian barat
menjadi satu dengan benua Asia,sedangkan yang di sebelah timur disebut dengan
dataran Sahul,dan menyebabkan kepulauan Indonesia di sebelah timur menyatu
dengan benua Australia.Sehingga ini semua mempengaruhi jenis flora-faunanya
juga.Manusia yang hidup di jaman Pleistosen adalah jenis Homo erectus.Jaman
Pleistosen berakhir kira-kira 10 ribu tahun sebelum Masehi.Kemudian diikuti
datangnya jaman Holosen(Alluvium) yang masih berlangsung hingga sekarang. Dan
jaman ini muncul manusia jenis Homo sapiens,yang diduga menjadi nenek moyang
manusia sekarang.
D. Pembagian lapisan Dilluvium menurut V. Koeningswalds
ada tiga :
1.
Pleistosen Bawah / Lapisan Jetis ( 20 juta – 15 juta
tahun yang lalu)di lapisan ini ditemukan fosil manusia purba Meganthropus
PaleoJavanicus oleh V. Koeningswald. Selain itu juga ditemukan fosil
Pithecantropus Mojokertensis dan Pithecantropus Robustus
2.
Pleistosen Tengah / Lapisan Trinil ( 1,5 juta –
500.000 tahun yang lalu)ditemukan fosil manusia purba Pithecantropus/Homo
Erectus dan Pithecanthropus Robustus.
3.
Pleistosen Atas/Lapisan Ngandong ( 100.000 – 50.000
tahun yang lalu)ditemukan fosil manusia purba Homo Soloensi ( Homo Sapiens
Soloensis ) dan Homo Wajakensis ( Homo Sapiens Wajakensis)
E. Nilai-Nilai Peninggalan Budaya Prasejarah Indonesia
Nilai-Nilai Peninggalan Budaya Prasejarah Indonesia
artinya, konsep-konsep umum tentang masalah-masalah dasar yang sangat penting
dan bernilai bagi kehidupan masyarakat prasejarah di Indonesia. Konsep-konsep
umum dan penting itu hingga kini masih tersebar luas di kalangan masyarakat
Indonesia.
Nilai-nilai budaya masa prasejarah Indonesia itu masih
terlihat dalam bentuk kegiatan-kegiatan berikut:
1.
Sistem Macapat
Sistem macapat ini merupakan salah satu butir dari 10
butir penelitian J.L.A. Brandes tentang keadaan Indonesia menjelang berakhirnya
zaman prasejarah. Sistem macapat merupakan suatu tata cara yang didasarkan pada
jumlah empat dan pusat pemerintah terletak di tengah-tengah wilayah yang
dikuasainya. Pada pusat pemerintahan terdapat tanah lapang (alun-alun) dan di
empat penjuru terdapat bangunan-bangunan yang penting seperti keraton, tempat
pemujaan, pasar, penjara. Susunan seperti itu masih banyak ditemukan pada
kota-kota lama.
2.
Kesenian Wayang
Munculnya kesenian wayang berpangkal pada pemujaan roh
nenek moyang. Jenis wayang yang dipertunjukkan adalah wayang kulit, wayang
orang dan wayang golek (boneka). Cerita dalam pertunjukkan wayang mengambil
tema tentang kehidupan pada masa itu dan setelah mendapat pengaruh bangsa Hindu
muncul cerita Mahabarata dan Ramayana.
3.
Seni Gamelan
Seni gamelan digunakan untuk mengiringi pertunjukkan
wayang dan dapat mengiringi pelaksanaan upacara.
4.
Seni Membatik
Seni membatik merupakan kerajinan untuk menghiasi kain
dengan menggunakan alat yang disebut canting. Hiasan gambar yang diambil
sebagian besar berasal dari alam lingkungan tempat tinggalnya. Di samping itu
ada seni menenun dengan beraneka ragam corak.
5.
Seni Logam
Seni membuat barang-barang dari logam menggunakan
teknik a Cire Perdue. Teknik a Cire Perdue adalah cara membuat barang-barang
dari logam dengan terlebih dulu membentuk tempat untuk mencetak logam sesuai
dengan benda yang dibutuhkan. Tempat untuk mencetak logam sesuai dengan benda
yang dibutuhkan.
Tempat untuk mencetak logam itu ada yang terbuat dari
batu, tanah liat, dan sebagainya. Pada tempat cetakan itu dituang logam yang
sudah dicairkan dan setelah dingin cetakan itu dipecahkan, sehingga terbentuk
benda yang dibutuhkannya. Barang-barang logam yang ditemukan sebagian besar
terbuat dari perunggu.

No comments:
Post a Comment