Anak Ibert Einstein, semua anak
sekelas memanggil dia dengan sebutan itu. Dia murid pindahan dari desa.
Bertampang lugu memiliki otak cemerlang, aku hampir lupa nama aslinya. Kalau
tidak salah nama aslinya Anjas, Mungkin ini akibat kebanyakan aku panggil Ibert
Einstein. Dia sering mendapatkan juara nasional olimpiade. Bahkan dia pernah
menjadi perwakilan Indonesia dalam lomba sains hampir tidak mungkin aku dapat
menggeser dari peringkat satu di kelas.
Anjas berbeda dari semua anak
kebanyakan, dia lebih tertutup dan tidak pandai bergaul, jujur sebenarnya aku
ingin menjadi temannya dan menanyakan rahasia ke pintarannya. Tapi, melihat
sikapnya terhadapku membuatku ragu ingin mendekatinya. Mungkin dia pintar
karena sering
membaca buku, pikirku. Tapi kenyataannya ketika di sekolah dia
tidak pernah membawa buku, alasan saat ditanya guru dia hanya menjawab maaf!
Sebenarnya apa rahasianya.
“Dit?” Tanyaku kepada Adit.
“Ada apa?”
“Anjas itu memiliki ilmu apa dia
kog pintar?”
“Mana aku tahu?”
“Tapi kamu kan tetangganya.”
“Memang tapi aku tidak pernah main
kerumannya.”
“Kenapa?”
“Kurang begitu akrab.”
Bahkan tetangganya saja tidak
akrab dengannya apalagi aku orang biasa yang jauh dari rumannya. Setiap saat ku
pandang perilakunya di dalam kelas, untuk mendapat suatu petunjuk tentang
rahasia kepintarannya, Anjas menghiraukanku dia memilih untuk tidur. Ah anak
ini sebenarnya dia dapat kepintaran dari mana? Dia hanya tidur saja? Apa dia
pakai dukun? Astagfirullah, pikiranku,
Pikirku. Bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa waktu istirahat sudah selesai
dan Pelajaran ke lima segera dimulai.
“Selamat
siang anak-anak,” ucap salam guruku.
“Siang
bu,” ucap serempak anak-anak.
“Sekarang
buka halaman 13,” ucap guruku.
Segera ku balik halaman sesuai
dengan permintaan bu guru halaman 13, terlihat Anjas yang masih terdiam
memandang guru yang berada di depan.
“Anjas
keluarkan bukumu!” ucap bu guru.
“Maaf,
bu saya tidak bawa!”
“Sekarang
kamu terangkan pelajaran ini!”
“Ok,”
ucap Anjas.
Dengan langkah yang pasti Anjas
maju kedepan kelas menerangkan semua pelajaran pada halaman 13. Anak ini
sebenarnya dia makan apa? Pikirku. Jujur aku lebih suka dia yang menerangkan
dari pada guru yang berada di sekolah ini, karena lebih mudah di cerna oleh
otakku. Detik demi detik berjalan, bel kembali berbunyi, Anjas masih
menerangkan kepada kami. Tak lama kemudian dia akhirnya selesai.
“Yah
anak-anak bagaimana penjelasan dari Anjas?” tanya guruku.
“Jelas
bu.”
“Apa
ada yang di tanyakan?”
“Tidak
ada,”
“Kalau
tidak ada, ibu kasih tugas kelompok.”
Bu guru membagi kelompoknya,
setelah di bagi aku binggung antara senang dan rugi. Senang karena satu
kelompok dengan Anjas dan rugi karena
dia ingin mengerjakan sendiri aku hanya titip nama saja. Tapi setelah aku paksa
dia mau melakukan kerja kelompok. Kerja kelompok dilaksanakan di rumahnya
spulang sekolah.
***
“Rumahmu
masih jauh?” tanyaku kepada Anjas.
“Sedikit
lagi sampai,” jawab Anjas.
11
menit perjalanan dengan mengunakan motor akhirnya sampai di rumahnya. Rumah
yang cukup besar, bercat hijau dengan pagar besi di depannya.
“Maaf
rumahku tidak bagus,” Ucap Anjas.
“Bagus,
rumah mu cukup bagus,”
Aku di persilahkan duduk di ruang tamu. Tampak beberapa foto dia
beserta keluarganya terpampang rapi di dinding.
“Ini foto siapa?”
“Foto,
Ayah,”
“Ayahmu
kerja apa?”
“Jadi
dosen di perguruan negri di Surabaya,”
“Pantas
kamu pintar ternyata orang tuamu jadi dosen,”
“Tidak
juga, oh ya ayo kekamarku abil buku,”
“Iya,”
Kulangkahkan kaki mengikutinya untuk mengambil buku,
aku sempat terkejut ketika memasuki kamarnya . puluhan buku berjejer rapi di
rak. Waw ternya ta dia memiliki banyak koleksi buku.
“Ada
apa Jok?” tanya Anjas kepadaku.
“Bukumu
banyak sekali?”
“Iya,
aku suka membaca,”
“Tapi
di kelas kamu jarang bawa buku?”
“Aku
tidak suka membawa yang berat-berat jadinya aku belajar di rumah saja,”
“Pantas
kamu pintar,”
“Bukannya
membaca itu membuka dunia. Dengan membaca maka banyak ilmu yang dapat kita
miliki,”
“Iya
sih,” ucapku.

mantap, gan! LANJUTKAN!
ReplyDeleteterimakasih telah membaca. :) Jangan lupa Share ya!!!
Delete