Gara-gara Menolong #Episode 2



Ndutttttt-nduttttttt, getar handpone ku. “Wah, Bibi telepon aku, apa dia akan marah?” karena takut, kumatikan telepon dari Bibi. Namun, tampaknya Bibi tidak menyerah dia berulang kali meneleponku. Akhirnya aku putuskan untuk menjawabnya.
“Maaf bi!” ucapku mengawali pembicaraan di telepon.
“Kamu dimana Jok?”
“Apa bibi tidak baca suratku?”
“Apa kamu lupa? Bibi tidak bisa baca Jok.”
“Terus apa gunanya buat surat?”
“Sekarang kamu dimana?”
“Di stasiun mau berangkat ke Malang.”
“Kamu itu bandel sekali, cepat pulang!”
“Maaf bi!” segera ku akhiri pembicaraan ini, dan mematikan handpone supaya Bibi tidak bisa menghubungiku lagi.
            Tampaknya kereta sudah datang, aku segera menuju gerbong untuk mendapatkan tempat duduk. Kereta kelas ekonomi, sungguh banyak yang berminat mengunakan jasa ini, selain harganya murah juga terhitung sangat cepat, karena tidak ada kata macet. Karena suasana yang ramai sehingga harus berdesak-desakan untuk masuk kedalam gerbong kereta. Brukk. Seorang wanita paruh baya menabrakku.
“Maaf, dik!”
“Iya bu,” jawabku. Kelihatannya dia tergesa-gesa.
            Wanita itu segera berlalu, aku duduk di depan pintu sehingga terlihat suasana di luar dari tempat dudukku. Terdengar suara speaker. “Lima menit lagi kereta segera berangkat.” “Masih Lima menit,” Ucapku lirih. Terlihat sebuah dompet warna merah terjatuh di depan pintu kereta. Dompet siapa itu? Ucapku dalam hati. Rasa penasarn membuat diri untuk turun keluar dari kereta dan datang mengambil dompet itu. “Dompet siapa ini?” Ucapku lirih.
            Ku buka dompet tersebut, aku kaget saat melihat puluhan uang 100 ribu an berjejer rapi di dalamnya. “Uang siapa ini banyak sekali?” Ucapku lirih. Kerlihat sebuah KTP,
Inikan KTP ibu tadi’ Ucapku dalam hati.
“Satu menit lagi Kereta akan berangkat.” Suara sepeker terdengar lagi.
‘Sial, kereta mau berangkat, apa yang harus aku lakukan. Apa aku tinggalkan saja dompet ini. Tapi jangan-jangan ibu itu sangat membutuhkan uang ini?’
“Mas kereta mau berangkat silahkan masuk!” ucap masinis kereta.
“Iya pak bentar,” ucapku.
‘Ah sudahlah masa bodoh.’ Ucapku dalam hati.
Aku segera masuk kedalam kereta di ikuti dengan mesinis menutup pintu.
“Maaf pak!” ucapku kepada masinis.
“Ada apa mas?”
“Saya mau turun.”
“Kenapa?”
“Saya ada urusan mendadak, saya naik hanya mengambil tas di dalam kereta. Mohon maaf!”
            Masinis membukakan pintu, aku pun keluar dari kereta. Beberapa saat kemudian kereta pergi melaju. ‘Kali ini aku tidak bisa bertemu Keluargaku, maaf!’ Ucapku dalam hati. Aku segera mengambil sepeda motor yang terpakir.
“Alamatnya dekat dengan rumah bibiku. Ucapku lirih. Segera aku menuju alamat yang tertera di KTP.
***
            “Assalamualaikum?” Aku mengucap salam
“Waalaikum salam, ada apa ya?” jawab pemilik dompet.
“Ini bu dompetnya jatuh.”
“Alhamdulillah. Terimakasih dik, silakan masuk dulu.”
“Tidak bu saya mau pulang saja.”
“Terimakasih dik, dari tadi ibu cari dompet ini. Ibu bersyukur kamu yang menemukan uang ini. Ibu sangat perlu uang ini untuk biaya oprasi anak ibu.”
“Lain kali hati-hati ya bu,” ucapku tersenyum.
“Iya dik,”
“Aku pamit pulang ya bu,”
“Iya dik terimakasih atas pertolongannya,”
            Ku langkahkan kaki menuju motor untuk pulang ke rumah bibi. Di setiap jalan aku merasa malu karena pergi tanpa pamit. Sesampainya di depan rumah bibi. Terdengar suara tangis dari dalam rumah. Siapa yang menangis? Pikirku. Tok-tok. Ku ketuk pintu rumah. Namun tidak ada yang membukakan pintu. “Ah, pintunya tidak di kunci,” ucapku lirih. Ku buka pintu rumah, terlihat bibiku yang sedang menangis di depan Tv.
“Ada apa bi?” tanyaku.
            Bibiku berlari menujuku dan memelukku. “Kamu tidak apa-apa Jok?”
“Kenapa Bi?”
“Kereta menuju Malang mengalami kecelakaan, keretanya kuluar dari jalur rel. Dari tadi bibi menghubungimu tapi tidak ada jawaban. Ku kira kamu masih di dalam kereta itu,”
“Tidak bi, maaf handpone aku matikan,”
“Untunglah Jok kamu tidak apa-apa, kemarin bibi bermimpi kamu kecelakaan, jadinya Bibi larang kamu pergi,”
“Hehe, aku tidak apa-apa Bi. Semua ini gara-gara menolong,”
“Maksudnya?”
“Ceritanya panjang,”
            Kali ini aku selamat dari maut akibat menolong, kalau tadi tidak menolong Orang itu, mungkin aku tidak akan bisa melihat wajah bibi dan keluargaku lagi. Terimakasih Tuhan, engkau masih memberiku umur panjang.


                    TAMAT......

No comments:

Post a Comment