Ndutttttt-nduttttttt, getar handpone ku. “Wah, Bibi telepon aku, apa
dia akan marah?” karena takut, kumatikan telepon dari Bibi. Namun, tampaknya Bibi
tidak menyerah dia berulang kali meneleponku. Akhirnya aku putuskan untuk menjawabnya.
“Maaf bi!” ucapku mengawali pembicaraan
di telepon.
“Kamu dimana Jok?”
“Apa bibi tidak baca suratku?”
“Terus apa gunanya buat surat?”
“Sekarang kamu dimana?”
“Di stasiun mau berangkat ke Malang.”
“Kamu itu bandel sekali, cepat pulang!”
“Maaf bi!” segera ku akhiri pembicaraan
ini, dan mematikan handpone supaya Bibi
tidak bisa menghubungiku lagi.
Tampaknya
kereta sudah datang, aku segera menuju gerbong untuk mendapatkan tempat duduk.
Kereta kelas ekonomi, sungguh banyak yang berminat mengunakan jasa ini, selain
harganya murah juga terhitung sangat cepat, karena tidak ada kata macet. Karena
suasana yang ramai sehingga harus berdesak-desakan untuk masuk kedalam gerbong
kereta. Brukk. Seorang wanita paruh baya
menabrakku.
“Maaf, dik!”
“Iya bu,” jawabku. Kelihatannya dia
tergesa-gesa.
Wanita
itu segera berlalu, aku duduk di depan pintu sehingga terlihat suasana di luar
dari tempat dudukku. Terdengar suara speaker.
“Lima menit lagi kereta segera berangkat.”
“Masih Lima menit,” Ucapku lirih. Terlihat sebuah dompet warna merah
terjatuh di depan pintu kereta. Dompet
siapa itu? Ucapku dalam hati. Rasa penasarn membuat diri untuk turun keluar
dari kereta dan datang mengambil dompet itu. “Dompet siapa ini?” Ucapku lirih.
Ku
buka dompet tersebut, aku kaget saat melihat puluhan uang 100 ribu an berjejer
rapi di dalamnya. “Uang siapa ini banyak sekali?” Ucapku lirih. Kerlihat sebuah
KTP,
‘Inikan
KTP ibu tadi’ Ucapku dalam hati.
“Satu
menit lagi Kereta akan berangkat.” Suara sepeker terdengar
lagi.
‘Sial,
kereta mau berangkat, apa yang harus aku lakukan. Apa aku tinggalkan saja
dompet ini. Tapi jangan-jangan ibu itu sangat membutuhkan uang ini?’
“Mas kereta mau berangkat silahkan
masuk!” ucap masinis kereta.
“Iya pak bentar,” ucapku.
‘Ah
sudahlah masa bodoh.’ Ucapku dalam hati.
Aku segera masuk
kedalam kereta di ikuti dengan mesinis menutup pintu.
“Maaf pak!” ucapku kepada masinis.
“Ada apa mas?”
“Saya mau turun.”
“Kenapa?”
“Saya ada urusan mendadak, saya naik
hanya mengambil tas di dalam kereta. Mohon maaf!”
Masinis
membukakan pintu, aku pun keluar dari kereta. Beberapa saat kemudian kereta
pergi melaju. ‘Kali ini aku tidak bisa
bertemu Keluargaku, maaf!’ Ucapku dalam hati. Aku segera mengambil sepeda
motor yang terpakir.
“Alamatnya dekat dengan rumah bibiku. Ucapku lirih. Segera aku menuju alamat
yang tertera di KTP.
***
“Assalamualaikum?” Aku mengucap
salam
“Waalaikum
salam, ada apa ya?” jawab pemilik dompet.
“Ini
bu dompetnya jatuh.”
“Alhamdulillah.
Terimakasih dik, silakan masuk dulu.”
“Tidak
bu saya mau pulang saja.”
“Terimakasih
dik, dari tadi ibu cari dompet ini. Ibu bersyukur kamu yang menemukan uang ini.
Ibu sangat perlu uang ini untuk biaya oprasi anak ibu.”
“Lain
kali hati-hati ya bu,” ucapku tersenyum.
“Iya
dik,”
“Aku
pamit pulang ya bu,”
“Iya
dik terimakasih atas pertolongannya,”
Ku langkahkan kaki menuju motor
untuk pulang ke rumah bibi. Di setiap jalan aku merasa malu karena pergi tanpa
pamit. Sesampainya di depan rumah bibi. Terdengar suara tangis dari dalam
rumah. Siapa yang menangis? Pikirku.
Tok-tok. Ku ketuk pintu rumah. Namun tidak ada yang membukakan pintu. “Ah,
pintunya tidak di kunci,” ucapku lirih. Ku buka pintu rumah, terlihat bibiku
yang sedang menangis di depan Tv.
“Ada
apa bi?” tanyaku.
Bibiku
berlari menujuku dan memelukku. “Kamu tidak apa-apa Jok?”
“Kenapa Bi?”
“Kereta menuju Malang mengalami
kecelakaan, keretanya kuluar dari jalur rel. Dari tadi bibi menghubungimu tapi
tidak ada jawaban. Ku kira kamu masih di dalam kereta itu,”
“Tidak bi, maaf handpone aku matikan,”
“Untunglah Jok kamu tidak apa-apa,
kemarin bibi bermimpi kamu kecelakaan, jadinya Bibi larang kamu pergi,”
“Hehe, aku tidak apa-apa Bi. Semua ini
gara-gara menolong,”
“Maksudnya?”
“Ceritanya panjang,”
Kali
ini aku selamat dari maut akibat menolong, kalau tadi tidak menolong Orang itu,
mungkin aku tidak akan bisa melihat wajah bibi dan keluargaku lagi. Terimakasih
Tuhan, engkau masih memberiku umur panjang.
TAMAT......

No comments:
Post a Comment