Untuk Cucuku Kelak #Episode 1



Sudah lama aku meninggalkan desa untuk mencari ilmu di kota, kira-kara Enam tahun lamanya. Aku rindu suasana desa yang asri, aku rindu udara yang sejuk di pagi hari. Desa ku sangat dekat dengan paru-paru dunia kira-kira 800 meter jaraknya. Masih membekas di pikiranku kenangan bersama teman-temanku dulu. Kami sering menghabiskan waktu bersama, naik pohon untuk mengambil sarang burung, bermain betak umpet, aku juga masih ingat ketika aku menangis karena tersesat di dalam hutan, kemudian ayahku menemukanku.
Rasa rindu akan suasana desa semakin membara ketika libur semester datang. Semua sibuk untuk pulang ke kampung halamannya bertemu keluarga tercinta. Namun untuk diriku mungkin harus di
tunda, karena masih banyak tugas yang menumpuk di meja.
            Bukan inginku untuk tetap di kota, sebenarnya aku sudah bosan berada disini. Polusi kendaraan sudah menjadi sarapan pagiku, udara terkontaminasi dengan asap knalpot kendaraan. Pohon-pohon sudah tampak jarang, sepertinya pemerintah setempat tidak tinggal diam, program penanaman 1000 pohon sudah menjadi opsi wajib untuk menangani masalah ini, namun kurangnya pemerhatian terhadap pohon yang di tanam membuat upaya ini sia-sia. Polusi ini mengangguku, mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa dengan keadaan ini, aman-aman saja. Tapi bagiku tidak, Mungkin kalau ibu ku datang ke sini pasti langsung ingin pulang. Dulu ketika awal-awal pindah ke kota aku kaget. Ku kira tinggal di peradaban maju sangat menyenangkan tapi angan sangat beda dengan kenyataan.
            Sampah-sampah berserakan, tidak jarang banjir datang. Banyak orang yang marah karena pemerintah yang kurang cekatan menanggani masalah banjir. Tapi sedikit di antaranya yang sadar bahwa banjir datang karena sampah, sampah yang mereka buang sembarangan. Padahal sudah terpampang jelas di setiap tempat-tempat umum. Anjuran “Bunglah sampah pada tempatnya!”
            Rasa rindu akan kampung halaman tidak tertahan lagi, aku terus mencari cara untuk bisa cepat menyelesaikan tugas dan pulang.
“Jok kenapa kamu benggong?” tanya Reno teman sekamarku.
“Ya, Ren aku sedang bingung,”
“Bingung kenapa?
“Aku ingin pulang ke desa tapi tugas masih banyak,”
“Tenang aku bisa bantu, aku akan membantumu mengerjakannya,”
“Serius?”
“Iya, tapi ada syaratnya,”
“Apa?”
“Belikan aku soto ayam,”
“Siap bos.”
            Aku bersyukur karena memiliki teman seperti Reno yang mau membantuku, akhirnya aku dapat pulang ke desa dan melepas semua kerinduanku. Sembilan jam perjalanan dari kota menuju kampung halaman di Kalimantan. Kepulanganku disambut mesra oleh keluargaku. Namun, ada hal yang membuatku terkejut, aku seakan tidak percaya hutan yang dulunya sangat indah dan asri berubah menjadi hamparan tanah luas.
“Bu hutannya kog menghilang?”
“Iya nak, hutan banyak yang di tebangi. Sekarang sudah seper lima yang di tebang,”
“Kenapa kog di tebang?”
“Kata nya sih mau di buat pabrik,”
“Tapi Bu,”
“Kenapa?”
            Kalau dibiarkan terus bisa habis nih hutan. Pikirku. Baru Enam tahun aku meninggalkan desa ternyata sudah banyak yang berubah. Dulu hutan di sini sangat luas, sekarang sudah banyak berkurang dan di buat pemukiman penduduk terlebih lagi di gunakan untuk pembuatan lahan pabrik. Hal yang membuatku terus bertanya-tanya. Sebenarnya mereka ingin membuat pabrik apa? Kenapa membuat pabrik di desa terpencil seperti desaku? Kenapa tidak membuat di perkotaan saja.
***
            Burung di pagi hari mulai jarang terdengar siulannya, udara pagi sudah tidak murni lagi, karena terkontaminasi asap kendaraan berat. Lama-lama desa ini bernasib sama dengan kota yang aku tinggali. Rasa kecewa akan perilaku manusia yang seenaknya tumbuh dalam diriku. Ketika aku berjalan melintasi area penebangan terdapat seekor gajah yang mati tergeletak dengan luka tembak di kepalanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gajah ini? Terlihat sekerumpulan pekerja yang masih sibuk menebang pohon dan mengabaikan gajah mati tersebut.
“Maaf pak, bolehkan aku bertanya?” ucapku.
“Ada apa?” tanya salah satu pekerja.
“Gajah itu kenapa di tembak,”
“Gajah itu muncul dan menganggu aktivitas pekerja,”
            Sebenarnya, gajah ini adalah salah satu hewan yang ingin mempertahankan tempat tinggalnya. Sungguh tragis gajah ini harus melawan sekelompok manusia buas tidak punya belas kasih. Kalau aku di posisi gajah mungkin aku akan melakukan hal yang sama, melawan ketidak adilan merebut tempat kelahiran. Desa yang aku rindukan telah tiada musnah tersapu kekuasaan. Tak jarang di antara mereka membakar hutan demi mempercepat pekerjaannya. Akibatnya banyak para binatang mati dan kehilangan tempat tinggalnya.
“Pak sebenarnya ini mau di buat pabrik apa?” tanyaku kepada pekerja.
“Saya sendiri tidak tahu mas. Saya Cuma ikut-ikutan kerja disini,” jawab pekerja.
“Lho kog tidak tahu?” tanyaku lagi.
“Yang penting saya dapat uang untuk menghidupi keluarga. Sekarang cari kerja itu susah mas. Apalagi saya tidak sekolah. Kalau mas ingin tahu ini mau dibuat pabrik apa coba tanya ke mandor di sana!” ucap pekerja sambil menunjuk seseorang di kejauhan.
            Tanpa kenal takut, kulangkahkan kaki ku menemui mandor proyek ini.
“Maaf pak, mengganggu,” ucapku.
“Maaf mas saya sudah tidak menerima pekerja lagi, mas boleh pergi!” seru mandor.
“Maaf pak! Saya tidak ingin melamar pekerjaan. Saya mau tanya ini mau jadi pabrik apa?”
“Jadi pabrik? Pabrik. Pabrik semen,” ucap mandor dengan wajah berpikir.
“Kalau boleh saya lihat surat izinnya?” ucapku.
Wajah mandor mulai memperlihatkan kebingungan. “Jangan ikut campur urusan kami cepat pergi dari sini!” usir mandor.
            Rasa curiga semakin menyelimuti perasaanku. Dalam hati terus bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi di sini? Tanpa bosannya aku mencari informasi. Akhirnya aku menemui kepala desa.
“Pak, sebenarnya ini mau buat pabrik apa?” tanyaku.


 BERSAMBUNG.... (jam 18.30 nanti)

No comments:

Post a Comment