Sudah lama aku
meninggalkan desa untuk mencari ilmu di kota, kira-kara Enam tahun lamanya. Aku
rindu suasana desa yang asri, aku rindu udara yang sejuk di pagi hari. Desa ku
sangat dekat dengan paru-paru dunia kira-kira 800 meter jaraknya. Masih
membekas di pikiranku kenangan bersama teman-temanku dulu. Kami sering
menghabiskan waktu bersama, naik pohon untuk mengambil sarang burung, bermain
betak umpet, aku juga masih ingat ketika aku menangis karena tersesat di dalam
hutan, kemudian ayahku menemukanku.
Rasa rindu akan suasana
desa semakin membara ketika libur semester datang. Semua sibuk untuk pulang ke
kampung halamannya bertemu keluarga tercinta. Namun untuk diriku mungkin harus
di
tunda, karena masih banyak tugas yang menumpuk di meja.
tunda, karena masih banyak tugas yang menumpuk di meja.
Bukan
inginku untuk tetap di kota, sebenarnya aku sudah bosan berada disini. Polusi
kendaraan sudah menjadi sarapan pagiku, udara terkontaminasi dengan asap knalpot
kendaraan. Pohon-pohon sudah tampak jarang, sepertinya pemerintah setempat
tidak tinggal diam, program penanaman 1000 pohon sudah menjadi opsi wajib untuk menangani masalah ini,
namun kurangnya pemerhatian terhadap pohon yang di tanam membuat upaya ini
sia-sia. Polusi ini mengangguku, mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa dengan
keadaan ini, aman-aman saja. Tapi bagiku tidak, Mungkin kalau ibu ku datang ke
sini pasti langsung ingin pulang. Dulu ketika awal-awal pindah ke kota aku
kaget. Ku kira tinggal di peradaban
maju sangat menyenangkan tapi angan sangat beda dengan kenyataan.
Sampah-sampah
berserakan, tidak jarang banjir datang. Banyak orang yang marah karena
pemerintah yang kurang cekatan menanggani masalah banjir. Tapi sedikit di antaranya
yang sadar bahwa banjir datang karena sampah, sampah yang mereka buang
sembarangan. Padahal sudah terpampang jelas di setiap tempat-tempat umum. Anjuran
“Bunglah sampah pada tempatnya!”
Rasa
rindu akan kampung halaman tidak tertahan lagi, aku terus mencari cara untuk
bisa cepat menyelesaikan tugas dan pulang.
“Jok kenapa kamu benggong?” tanya Reno
teman sekamarku.
“Ya, Ren aku sedang bingung,”
“Bingung kenapa?
“Aku ingin pulang ke desa tapi tugas
masih banyak,”
“Tenang aku bisa bantu, aku akan
membantumu mengerjakannya,”
“Serius?”
“Iya, tapi ada syaratnya,”
“Apa?”
“Belikan aku soto ayam,”
“Siap bos.”
Aku
bersyukur karena memiliki teman seperti Reno yang mau membantuku, akhirnya aku
dapat pulang ke desa dan melepas semua kerinduanku. Sembilan jam perjalanan
dari kota menuju kampung halaman di Kalimantan. Kepulanganku disambut mesra
oleh keluargaku. Namun, ada hal yang membuatku terkejut, aku seakan tidak
percaya hutan yang dulunya sangat indah dan asri berubah menjadi hamparan tanah
luas.
“Bu hutannya kog menghilang?”
“Iya nak, hutan banyak yang di tebangi. Sekarang
sudah seper lima yang di tebang,”
“Kenapa kog di tebang?”
“Kata nya sih mau di buat pabrik,”
“Tapi Bu,”
“Kenapa?”
Kalau dibiarkan terus bisa habis nih hutan. Pikirku.
Baru Enam tahun aku meninggalkan desa ternyata sudah banyak yang berubah. Dulu
hutan di sini sangat luas, sekarang sudah banyak berkurang dan di buat
pemukiman penduduk terlebih lagi di gunakan untuk pembuatan lahan pabrik. Hal
yang membuatku terus bertanya-tanya. Sebenarnya mereka ingin membuat pabrik
apa? Kenapa membuat pabrik di desa terpencil seperti desaku? Kenapa tidak membuat
di perkotaan saja.
***
Burung
di pagi hari mulai jarang terdengar siulannya, udara pagi sudah tidak murni lagi,
karena terkontaminasi asap kendaraan berat. Lama-lama
desa ini bernasib sama dengan kota yang aku tinggali. Rasa kecewa akan
perilaku manusia yang seenaknya tumbuh dalam diriku. Ketika aku berjalan
melintasi area penebangan terdapat
seekor gajah yang mati tergeletak dengan luka tembak di kepalanya. Sebenarnya
apa yang terjadi dengan gajah ini? Terlihat sekerumpulan pekerja yang masih sibuk
menebang pohon dan mengabaikan gajah mati tersebut.
“Maaf pak, bolehkan aku bertanya?”
ucapku.
“Ada apa?” tanya salah satu pekerja.
“Gajah itu kenapa di tembak,”
“Gajah itu muncul dan menganggu
aktivitas pekerja,”
Sebenarnya,
gajah ini adalah salah satu hewan yang ingin mempertahankan tempat tinggalnya.
Sungguh
tragis gajah ini harus melawan sekelompok manusia buas tidak punya belas kasih.
Kalau aku di posisi gajah mungkin aku akan melakukan hal yang sama, melawan
ketidak adilan merebut tempat kelahiran. Desa yang aku rindukan telah tiada
musnah tersapu kekuasaan. Tak jarang di antara mereka membakar hutan demi
mempercepat pekerjaannya. Akibatnya banyak para binatang mati dan kehilangan
tempat tinggalnya.
“Pak sebenarnya ini mau di buat pabrik
apa?” tanyaku kepada pekerja.
“Saya sendiri tidak tahu mas. Saya Cuma
ikut-ikutan kerja disini,” jawab pekerja.
“Lho kog tidak tahu?” tanyaku lagi.
“Yang penting saya dapat uang untuk
menghidupi keluarga. Sekarang cari kerja itu susah mas. Apalagi saya tidak
sekolah. Kalau mas ingin tahu ini mau dibuat pabrik apa coba tanya ke mandor di
sana!” ucap pekerja sambil menunjuk seseorang di kejauhan.
Tanpa
kenal takut, kulangkahkan kaki ku menemui mandor proyek ini.
“Maaf pak, mengganggu,” ucapku.
“Maaf mas saya sudah tidak menerima
pekerja lagi, mas boleh pergi!” seru mandor.
“Maaf pak! Saya tidak ingin melamar
pekerjaan. Saya mau tanya ini mau jadi pabrik apa?”
“Jadi pabrik? Pabrik. Pabrik semen,”
ucap mandor dengan wajah berpikir.
“Kalau boleh saya lihat surat izinnya?”
ucapku.
Wajah mandor mulai memperlihatkan
kebingungan. “Jangan ikut campur urusan kami cepat pergi dari sini!” usir
mandor.
Rasa
curiga semakin menyelimuti perasaanku. Dalam hati terus bertanya-tanya
sebenarnya apa yang terjadi di sini? Tanpa bosannya aku mencari informasi.
Akhirnya aku menemui kepala desa.
“Pak, sebenarnya ini mau buat pabrik
apa?” tanyaku.
BERSAMBUNG.... (jam 18.30 nanti)
No comments:
Post a Comment