“Pa pabrik-pabrik?” jawab kepala desa
kebinggungan.
“Pabrik apa pak?” sahutku.
“Pabrik batu, iya pabrik batu,”
“Emang disini ada batu?”
“Kamu tidak usah ikut campur urusan desa
ini!”
“Tapi pak, saya kan termasuk penduduk
desa ini,”
“Itu dulu, semua sudah berubah sejak
kamu pergi.”
“Surat izinnya hilang, sudah pulang
sana!”
Perbedaan
jawaban antara ketua mandor dan kepala desa membuatku semakin binggung dan ingin
mengupas kebenaran proyek tersebut, ketidak transparanan tentang proyek pabrik tersebut
membuatku semakin curiga. Aku harus
mencari informasi tentang pabrik ini, pikirku.
***
Tidak kusangka sudah Empat
hari di kampung halamanku, namun aku belum dapat banyak informasi mengenai
pabrik tersebut. Pagi yang cerah mengingatkanku tentang masa lalu ku bersama
teman-teman. Bermain di hutan, namun itu tinggal kenangan, hutan yang indah
dulu, sekarang hampir hilang. Terlihat anak-anak di luar cendela sedang
berlarian. Bermain dan tertawa dengan suka cita membuatku rindu tentang
kampungku yang dulu. Jika mereka lahir di
masaku. Pasti senyum mereka makin lebar. Pikirku.
Terlintas di pikiranku
untuk mengajak teman-temanku menyelidiki masalah ini. Aku tidak sendiri disini, aku memiliki teman. Aku memiliki kawan.
Pikirku. Segera ku kumpulkan teman-teman masa kecilku untuk mengajaknya
berdiskusi.
Ketika hendak menuju rumah salah satu
teman. Aku diadang sekerumunan orang yang tidak aku kenal.
“Berhenti kamu!” ucap salah satu dari
mereka.
“Ada apa ini?” tanyaku.
“Kamu jangan ikut urusan kami!”
“Kalian siapa?”
“Jangan banyak bicara!”
Mereka
langsung memukuliku. “Makannya jangan ikut campur urusan pabrik, sekarang kamu
pergi dari desa ini atau kamu akan kami bunuh!” ancam segerombolan orang
tersebut. Mereka langsung pergi meninggalkanku yang terluka. Namun aku masih
beruntung karena masih kuat untuk berjalan pulang. Sesampainya di rumah
keluargaku terkejut melihatku yang babak belur.
“Kamu kenapa nak? Apa yang terjadi?”
tanya Ibuku. Aku hanya bisa terdiam dan menahan rasa sakit.
“Sebentar Ibu ambilkan obat dulu,” Ucap
Ibuku kuatir.
“Apa yang terjadi nak?” tanya Ibuku
memburu.
“Tadi aku di pukuli sekawanan orang yang
tidak ku kenal,”
“Kamu ada masalah apa nak?” ucap Ibuku
yang masih mengobati lukaku.
“Masalah di pabrik,”
“Sudah lah biarkan saja, Ibu tidak mau
kamu kenapa-kenapa. Sudah jangan ikut campur lagi!” tutur Ibuku.
“Maaf bu aku harus lapor pihak yang
berwajib tentang kejadian ini.”
“Tapi kantor polisi sangat jauh dari
sini, sudahlah lupakan saja! Ibu takut terjadi apa-apa lagi.”
“Bu aku pamit pergi ke kantor polisi,”
“Tapi kamu masih terluka,”
“Aku masih kuat kog Bu, aku tidak bisa
biarkan hutan kita musnah. Aku ingin menunjukkan pada cucuku nanti keindahan
hutan Desa kita, maka dari itu aku harus selamatkan hutan ini.”
“Sudah terlambat nak, sudah seper lima
yang rusak. Lebih baik urungkan niatmu lapor ke polisi!”
“Lebih baik terlambat dari pada tidak
sama sekali,”
“Tapi nak,”
“Bu izinkan aku menyelamatkan sedikit
dari hutan Indonesia yang rusak,”
“Baiklah, jika itu keputusanmu,”
Setelah
beberapa menit meyakinkan Ibuku akhirnya aku di beri izin untuk pergi ke kantor
polisi. Dengan menggunakan
sepeda tua milik almarhum kakek, kukayuh dari rumah sampai ke pusat kota
terdekat untuk mencari kantor polisi dan berharap paru-paru dunia dapat diselamatkan,
rasa sakit di tubuh seakan tidak
terasa. Satu jam perjalanan telah ditempuh olehku, darah bekas pukulan
terbalut dengan keringat, menjadi sumber sorot mata semua orang.
“Pak saya mau melapor,”
“Maaf dik! Kamu terluka, sebaiknya kami
bawa ke rumah sakit dulu,”
“Jangan pak! Saya kesini mau melapor
tindak kekerasan dan penebangan hutan liar,”
“Nanti kami proses sekarang kami bawa ke
dokter dulu,”
Setelah
satu jam lamanya menunggu proses hukum, aku bersama beberapa polisi pergi ke
TKP untuk menindak lanjut peroses hukum. Setelah tiba di TKP para anggota polisi mulai menyelidiki pabrik tersebut,
alhasil ternyata tidak ada surat resmi mengenai pembangunan pabrik, sehingga
para anggota polisi menangkap semua pihak yang terlibat termasuk kepala desa. Sempat
terjadi aksi kejar-kejaran antara polisi dan sebagaian pelaku yang nekat kabur
namun para polisi dapat menangkap pelaku yang kabur.
“Terima kasih telah melapor ke polisi,
akhirnya kami dapat menangkap para penjahat yang sedang buron. Mereka menjual
kayu secara ilegal,” ucap polisi kepadaku.
“Iya pak sama-sama.” Sahutku.
***
Setelah
kejadian itu, Wakil kepala desa naik jabatan menjadi kepala desa, dan dengan
usulku akhirnya para warga melaksanakan aksi penanaman 10.000 pohon untuk mengganti semua pohon yang di tebang. Kelak
cucuku akan kagum dengan keindahan hutan ini, Hutan Indonesia. Dan tidak akan
ku biarkan lagi hutanku kembali hancur.
TAMAT.........
No comments:
Post a Comment