Untuk Cucuku Kelak #Episode 2



“Pa pabrik-pabrik?” jawab kepala desa kebinggungan.
“Pabrik apa pak?” sahutku.
“Pabrik batu, iya pabrik batu,”
“Emang disini ada batu?”
“Kamu tidak usah ikut campur urusan desa ini!”
“Tapi pak, saya kan termasuk penduduk desa ini,”
“Itu dulu, semua sudah berubah sejak kamu pergi.”
“Oh ya pak, apa boleh saya lihat surat izinnya?”
“Surat izinnya hilang, sudah pulang sana!”
            Perbedaan jawaban antara ketua mandor dan kepala desa membuatku semakin binggung dan ingin mengupas kebenaran proyek tersebut, ketidak transparanan tentang proyek pabrik tersebut membuatku semakin curiga. Aku harus mencari informasi tentang pabrik ini, pikirku.
***
Tidak kusangka sudah Empat hari di kampung halamanku, namun aku belum dapat banyak informasi mengenai pabrik tersebut. Pagi yang cerah mengingatkanku tentang masa lalu ku bersama teman-teman. Bermain di hutan, namun itu tinggal kenangan, hutan yang indah dulu, sekarang hampir hilang. Terlihat anak-anak di luar cendela sedang berlarian. Bermain dan tertawa dengan suka cita membuatku rindu tentang kampungku yang dulu. Jika mereka lahir di masaku. Pasti senyum mereka makin lebar. Pikirku.
Terlintas di pikiranku untuk mengajak teman-temanku menyelidiki masalah ini. Aku tidak sendiri disini, aku memiliki teman. Aku memiliki kawan. Pikirku. Segera ku kumpulkan teman-teman masa kecilku untuk mengajaknya berdiskusi.
Ketika hendak menuju rumah salah satu teman. Aku diadang sekerumunan orang yang tidak aku kenal.
“Berhenti kamu!” ucap salah satu dari mereka.
“Ada apa ini?” tanyaku.
“Kamu jangan ikut urusan kami!”
“Kalian siapa?”
“Jangan banyak bicara!”
            Mereka langsung memukuliku. “Makannya jangan ikut campur urusan pabrik, sekarang kamu pergi dari desa ini atau kamu akan kami bunuh!” ancam segerombolan orang tersebut. Mereka langsung pergi meninggalkanku yang terluka. Namun aku masih beruntung karena masih kuat untuk berjalan pulang. Sesampainya di rumah keluargaku terkejut melihatku yang babak belur.
“Kamu kenapa nak? Apa yang terjadi?” tanya Ibuku. Aku hanya bisa terdiam dan menahan rasa sakit.
“Sebentar Ibu ambilkan obat dulu,” Ucap Ibuku kuatir.
“Apa yang terjadi nak?” tanya Ibuku memburu.
“Tadi aku di pukuli sekawanan orang yang tidak ku kenal,”
“Kamu ada masalah apa nak?” ucap Ibuku yang masih mengobati lukaku.
“Masalah di pabrik,”
“Sudah lah biarkan saja, Ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa. Sudah jangan ikut campur lagi!” tutur Ibuku.
“Maaf bu aku harus lapor pihak yang berwajib tentang kejadian ini.”
“Tapi kantor polisi sangat jauh dari sini, sudahlah lupakan saja! Ibu takut terjadi apa-apa lagi.”
“Bu aku pamit pergi ke kantor polisi,”
“Tapi kamu masih terluka,”
“Aku masih kuat kog Bu, aku tidak bisa biarkan hutan kita musnah. Aku ingin menunjukkan pada cucuku nanti keindahan hutan Desa kita, maka dari itu aku harus selamatkan hutan ini.”
“Sudah terlambat nak, sudah seper lima yang rusak. Lebih baik urungkan niatmu lapor ke polisi!”
“Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali,”
“Tapi nak,”
“Bu izinkan aku menyelamatkan sedikit dari hutan Indonesia yang rusak,”
“Baiklah, jika itu keputusanmu,”
            Setelah beberapa menit meyakinkan Ibuku akhirnya aku di beri izin untuk pergi ke kantor polisi. Dengan menggunakan sepeda tua milik almarhum kakek, kukayuh dari rumah sampai ke pusat kota terdekat untuk mencari kantor polisi dan berharap paru-paru dunia dapat diselamatkan, rasa sakit di tubuh seakan tidak terasa. Satu jam perjalanan telah ditempuh olehku, darah bekas pukulan terbalut dengan keringat, menjadi sumber sorot mata semua orang.
“Pak saya mau melapor,”
“Maaf dik! Kamu terluka, sebaiknya kami bawa ke rumah sakit dulu,”
“Jangan pak! Saya kesini mau melapor tindak kekerasan dan penebangan hutan liar,”
“Nanti kami proses sekarang kami bawa ke dokter dulu,”
            Setelah satu jam lamanya menunggu proses hukum, aku bersama beberapa polisi pergi ke TKP untuk menindak lanjut peroses hukum. Setelah tiba di TKP  para anggota polisi mulai menyelidiki pabrik tersebut, alhasil ternyata tidak ada surat resmi mengenai pembangunan pabrik, sehingga para anggota polisi menangkap semua pihak yang terlibat termasuk kepala desa. Sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara polisi dan sebagaian pelaku yang nekat kabur namun para polisi dapat menangkap pelaku yang kabur.
“Terima kasih telah melapor ke polisi, akhirnya kami dapat menangkap para penjahat yang sedang buron. Mereka menjual kayu secara ilegal,” ucap polisi kepadaku.
“Iya pak sama-sama.” Sahutku.
***
            Setelah kejadian itu, Wakil kepala desa naik jabatan menjadi kepala desa, dan dengan usulku akhirnya para warga melaksanakan aksi penanaman 10.000 pohon untuk mengganti semua pohon yang di tebang. Kelak cucuku akan kagum dengan keindahan hutan ini, Hutan Indonesia. Dan tidak akan ku biarkan lagi hutanku kembali hancur.

 TAMAT.........

No comments:

Post a Comment