Awan hitam pekat mulai menghiasi langit sekolah mereka,
tanda hujan akan segera turun. Nampak raut kesal tergambar diwajah Roni.
Begitupun Nita. Dia segera memasuki ruangan dengan wajah tertunduk.
Suara rintikan air hujan yang renyah menciptakan
alunan melodi indah. Tetesan air yang turun dari langit seolah melunturkan
segala duka. Hujan turun dengan derasnya. Roni masih di lapangan sekolah ketika
Nita mengintipnya lewat Jendela ruangan. Yah, laki–laki yang menyita pandangan Nita
adalah Roni. Tetesan air hujan yang melewati setiap lekuk wajah Roni membuat
wajah oval
itu bersinar. Dan benar –
benar Nita hanya bisa memandangi Roni
dari sudut yang jauh. Tapi, semua bayangan Nita tentang Roni hanyut bersama air
hujan kala salah seorang teman berpamitan pulang. Nita pun ikut pulang dan
berjalan di depan lapangan dalam balutan hujan. Dilihatnya Roni juga sudah
diistirahatkan. Nita terus, terus, terus, dan terus mengamati Roni. Tapi tiga
detik kemudian Nita berjalan dengan tertunduk. Hingga, dia bertabrakan dengan
salah seorang yang melintas dihadapanya. Sontak dia menegakkan pandangannya
karena terkejut. Nita diam seribu bahasa. Laki – laki yang ditabraknya ternyata
Roni. Mereka berpandangan satu sama lain. Mata mereka bertemu. Menyapa satu
sama lain. Dan membawa mereka pada salah satu sudut teromantis dari hujan Sekali lagi, dunia khayal
Roni bekerja. Tiba–tiba terdengar alunan lagu Hujan milik Cokelat dari
alam bawah sadar Roni. Namun bukan hanya Roni yang merasakan itu. Nita seakan
ikut terseret dalam alur cerita yang dibuat oleh Roni saat hujan mengguyur
mereka berdua. Alam bawah sadar mereka terjebak dalam ruang romantis hujan.
Sihir hujan bekerja. Benar - benar moment
special . Dua bola mata saling meyapa satu sama lain di bawah payung hujan,
romantic. Indah. Penuh sihir. Dan
menghanyutkan. Meraka berterimakasih
pada hujan.
“Hai” sebuah isyarat yang dikirim oleh mata Roni
Senyum mengembang dari wajah Nita, menjawab teguran Roni.
Dua pasang mata sedang berdialog. Menikmati nuansa
indah hujan. Roni dan Nita terlihat bahagia.
***
Hujan tak kunjung reda. Dan dua anak manusia yang
sedang terkena demam merah jambu itu masih terdiam satu sama lain. Berjalan
bersama, beriringan satu sama lain. Senyap, sepi dan tidak ada suara. Hanya
suara hujan yang terdengar membasahi bumi sekolahan mereka. Gejolak cinta yang
melanda Nita membuatnya memulai percakapan. Dia tahu pasti, bahwa Roni amat
pemalu. Jadi tak mungkin Roni akan memulai berbicara.
“Apa kabar Roni ?”
“Baik” Senyap mulai hadir. Tapi tiba tiba ,
“Pulang dengan
siapa Nit
?”
Nita terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Roni akan
bertanya sesuatu padanya.
“Kurang tahu, mungkin naik bus”
“Boleh aku berbicara padamu”
“Silahkan”
Suasana kembali diam beberapa saat. Terlihat sekali
kegugupan diwajah Roni. Dia mengumpulkan keberanianya untuk mengemukakan
sesuatu yang mengganjal dihatinya. Setelah diarasa cukup untuk mengumpulkan
keberanian, Roni kembali berucap.
“Sejak pertama
kali kudengar suaramu, sejak pertama kali kulihat wajahmu ditengah rembulan
pantai Mangrove, aku merasakan ada suatu perasaan yang berbeda. Tiap kali aku
tak melihatmu rasanya hari–hariku ada yang kurang”
“Lantas ?”
sahut Nita setengah tidak percaya Roni sepuitis itu
“Aku bingung
akan perasaan ini. Sebagai soerang laki–laki normal aku tak kuasa menahan perasaan
ini. I love You, would you like to be my
Girlfriend ?”
Nita terdiam. Dia tidak percaya dengan apa ang
dikatakan lelaki pemalu itu. Bagaimana mungkin dia punya keberanian menyatakan
cinta. Lidah Nita kaku, ia tak kuasa untuk berkata tidak. Hingga akhirnya yang
keluar adalah “Iya, tentu”.
Hujan memang punya sihir. Hati dua anak manusia
itu menyatu bersama hujan. Larut dalam tetesan air hujan. Dan bersemi dibawah
peyung hujan. . #DuetAje

No comments:
Post a Comment