Kesalahan terbesar dalam Hidup

Suasana rumah tampak sepi sejak satu bulan yang lalu. Waktu itu, tangisan terdengar di seluruh sudut rumah. Ramai memang, banyak keluarga dari jauh datang. Tapi mereka hanya datang untuk menangis. Mungkin orang tuaku masih mengingat kejadian satu bulan yang lalu. Sehingga membuat mereka tampak dingin melihatku. Kejadian itu membuat aktivitas kehidupanku banyak berubah. Mungkin karena rasa bersalah yang selalu menghantui, beribu kata maaf selalu terucap dalam bibir.
Ingin rasanya aku kembali ke masa lalu untuk mencegah kesalahanku. Namun, aku bukan tuhan yang mudah untuk melakukan apa saja. Memang penyesalan selalu datang di akhir tapi setidaknya aku ingin meringankan beban penyesaan ini. Tidak terasa umur tahun ini tinggal dua bulan lagi. Jika ditanya harapan tahun baru yang akan datang apa? yang aku inginkan masih tetap, yaitu menghilangkan rasa bersalah ini.
Bunyi handpone terdegar keras di telingaku, menandakan ada yang menghubungiku. Segera aku angkat.
“Halo?” Jawabku.
“Jok cepat keluar rumah! Aku sekarang di depan rumah mu.” Serunya.
“Ardi, Kapan sampai Di Malang?”
“Sudah kamu keluar saja!”
Ku langahkan kaki dan membuka pintu untuk menemui Ardi. Ardi, teman masa kecilku. Dulu kami sering bermain bersama, berangkat sekolah bersama-sama. Namun, semenjak dia pindah ke luar negri, kami tidak pernah berjumpa lagi.
“Kamu sampai di bandara jam berapa? Tanyaku membuka percakapan
“Baru saja sampai,” jawab Andi santai.
“Kamu makin keren saja,” Pujiku.
“Hahaha, kamu juga.”
“Gimana di Amerika Betah gak?” Tanyaku.
“Tenang saja di sana menyenangkan,” Jawabnya.
“Terus kamu pulang sama siapa?” Tanyaku lagi.
“Ibu.” Jawabnya singkat
“Ayah mu?”
“Dia sangat sibuk jadi tidak bisa pulang,”
“Yang sabar ya!” ucapku sambil tersenyum.
“Hahaha kamu itu. Oh ya kakak Disa mana?” tanyanya.
Pertanyaan Andi mengingatkanku kepada kenangan masa lalu, serta membuatku ingat kepada penyesalanku. Aku hanya terdiam dan memilih tidak berkata apa-apa.
“Dimana kakak Disa, pasti dia makin cantik,”
“Dia sudah meninggal,” ucap ku.
Hahaha? Bercandamu jangan kelewatan!” tuturnya.
“Maaf, semua ini salahku.” Ucapku tertunduk sedih.
“Kenapa? Kenapa kamu tidak beri tahu akau?” tanyanya dengan nada kecewa.
“Maaf, semua ini slahku.” Ucapku.
“Sudahlah, memang sudah takdir tuhan.” Tutur Ardi.
“Sekarang ayo ikut aku keluar,” ajak Ardi.
“Kemana?” tanyaku
“Sudah ikut saja!” serunya.
“Ya uda, Mana mobilmu?” tanyaku.
“Kita naik motor baruku,”
“Helmnya?”
“Dekat kog ndak usah pakai helm!”
“Gak ah,” tolakku.
Ya elah, dekat. Cuma 1 Km,” bujuknya lagi.
“Kamu saja, aku tunggu di sini ya!” Elakku.
“Ya uda pakai helm ku,” ucap Ardi sembari memberikan Helm yang di pegangnya.
“Lah kamu pakai apa?” tanyaku..
“Ndak usah, kamu aja yang pakai,” jawabnya.
Tidak kamu saja yang pergi!”
“Kamu takut amat, gak ada polisi disini,”
Aku hanya terdiam, ucapan Ardi mengingatkanku tentang kejadian sebelum Kakak Disa meninggal pikiranku kosong, penyesalan yang mulai pudar seiring waktu mulai kembali dan tampak jelas.
***
Waktu itu seperti hari-hari biasa aku mengantar kakak Disa untuk berangkat berkerja di sebuah Bank swasta. Entah kenapa aku tidak menuruti perintahnya. Aku seperti orang yang sedang terburu-buru padahal aku tidak memiliki pekerjaan apa-apa.
            “Kak ayo berangkat!” Ajakku.
            “Tunggu, kakak masih belum siap Jok!” ucapnya.
            “Ayo kakak,” ucapku sembari menyalakan motor.
            “Ya, ayo,”
            “Naik, kak!”
            “Helmnya mana?”
            “Ndak usah, dekat kog,”
            “Tapi Jok, ini demi keselamatan kita,”
            “Sudahlah, Ribet kalau pakai helm!”
            “Pakai helm paling Cuma 1 menit,”
            “Ah sekitar sini gak ada polisi,”
“Helm untuk keselamatan kita, bukan untuk polisi,”
“Ya uda, nih kakak pakai helm ini!”
“Lah kamu pakai apa?”
“Tidak usah, lagian helm dipinjam tetangga,”
“Ya uda kamu saja yang pakai, tapi nanti berhenti di toko sebelah,”
“Kenapa kak?”
“Kita beli helm dulu,”
“Kakak saja yang pakai, aku tidak mau pakai soalnya tidak enak di kepala,”
“Sudah pakai saja nanti kalau kakak gajian tak kasih uang,”
“Bener ya kak,” ucapku.
Ketika melewati toko helm aku terdiam saja dan tidak berhenti untuk membelinya. Entah mungkin rasa pelitku untuk membeli helm datang.
“Jok seharusnya tadi kita berhenti untuk beli helm sebentar!” ucap kakakku.
“Ah sudalah kak.” Elakku.
Lampu merah menyala di perempatan jalan pertanda aku harus berhenti, kutunggu hingga nyala hijau, tidak lama kemudian lampu hijau menyala pertanda aku boleh melanjutkan perjalananku. “Brakkk” bunyi suara tabrakan, sebuah mobil menerobos lampu merah dan menabrak motor yang kami kendarai dari samping kanan, kami terpental jauh. Aku hanya luka-luka dan kepalaku selamat dari benturan karena memakai helm, tapi hal ini tidak terjadi dengan kakak. Kepalanya terbentur trotoar jalan dan mengalami pendarahan di bagian belakang kepala. Segera kami di larikan ke Rumah Sakit. Namun, kakak meninggal dalam perjalanan.
***
“Jok, Jok. Hei jangan melamun, tenang tidak ada polisi disana,” ucap Ardi membangunkanku dari lamunan burukku.
“Maaf-maaf!” ucapku
“Tenang, tidak ada polisi,” ucapnya.
“Yang aku takutkan bukan polisi tapi keselamatanku.”
“Kamu kenapa sih?”
“Aku ndak mau naik motor tidak pakai helm! Sedia payung sebelum hujan Ar
“Dulu kamu jarang pakai Helm,”
“Itu dulu. Aku ndak mau membahayakan keselamatan ku,”
“Deket, kog,” Ajaknya lagi.
“Lagian kamu pakai helm kalau ada polisi Saja,” sindirku.
“Ayo,” ajaknya memaksa.
“Jalan kaki aja ya!” elakku.
“Ah lupakan, resek kamu.”
“Maaf, ini demi keselamatan kita.”
“Sok Jadi orang tua,” Ucapnya mengakhiri pembicaraan. Ardi menaiki motor dan berlalu.
            Ku langkahkan kaki menuju kamar, ketika melewati ruang tamu aku terhenti sambil melihat album foto, terlihat foto Almarhum Kakak berada di tengah keluarga dengan senyuman manisnya. ‘Maafkan aku Ardi, aku tidak mau mengulangi kesalahanku lagi! Maafkan aku Ar! Maafkan aku kak Disa.’ Ucapku dalam hati sembari meneteskan air mata.
            Kejadian satu bulan yang lalu masih saja terkenang di pikiranku. Rasanya seperti terjadi  baru kemarin memang kakak meninggal karena pengendara lain yang menerobos lalu lintas. Tapi aku juga salah kenapa aku tidak berhenti dan membeli helm? Kenapa aku tidak menuruti perintah kakak. Sepantasnya aku saja yang mati menggantikannya, setidaknya rasa bersalah tidak akan pernah hadir di kehidupanku.
            KRINGG. Bunyi handpone. ‘Ardi telpon,’ Ucapku dalam hati. Segera ku terima telpon dari Ardi.
            “Halo Jok?” Sapa Ardi.
            “Ya ada apa?” Jawabku.
            “Maaf, tadi aku kasar! Aku baru dengar soal kematian Kakak Disa,”
            “Oh,”
            “Sebenarnya itu bukan 100 % kesalahanmu, berhentilah menyalakan dirimu!” Tuturnya.
            “Iya Ar, makasi,”
            “Maaf ya, kamu benar. Sedia payung sebelum hujan. Kita sebegai pengendara sering lupa akan hal-hal kecil. Padahal hal kecil itu bisa menimbulkan masalah yang besar.” Tuturnya.
            “Ya, memang. Kita lebih takut kepada polisi dari pada keselamatan kita. Kita selalu menutupi kemungkinan yang ada dengan kata-kata “dekat kog, nadak ada polisi” tapi meskipun itu dekat atau tidak ada polisi segala kemungkinan itu ada. Bahaya selalu ada.” Ucapku.
            “Iya, kamu benar Jok!”
            “Maka dari itu hati-hati ya,”
            “Hahaha, tenang saja! Oh ya, sudah ya aku masih ada keperliuan,”
“Iya,” ku tutup handphone  dan melanjukakan aktivitasku.








Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan
Nulisbuku.com


1 comment:

  1. Casinos Near Me - Jackson, SC - JT Hub
    A casino with over 800 slots is near me. You 원주 출장샵 can't 충청북도 출장마사지 miss it. The 군산 출장샵 best place to stay with a casino near me is by 양주 출장안마 finding near 안양 출장안마 the airport.

    ReplyDelete