Gara-gara Menolong #Episode 1



Libur sekolah telah tiba. Ingin rasanya Aku pergi untuk bertemu keluarga di Kota Malang. Jauh dari keluarga bukanlah keinginan, namun hal ini harus dilakukan demi meneruskan perjuangan mencari ilmu. Alasan kenapa aku berpisah dengan keluarga sangatlah sederhana, Ayah berkerja sebagai pedagang kaki lima di sana. Ingin rasanya selalu dekat dengan keluarga namun takdir berkata lain, aku kelas 12 SMA sebentar lagi ujian sehingga tidak di perkenankan untuk pindah sekolah.
Disini, Di Lamongan aku tinggal bersama Bibi. Bibi merawatku layaknya anaknya sendiri. Tahun ini mungkin aku akan pergi ke Malang setelah Ujian Nasional, namun tidak bisa di pungkiri aku sudah rindu dengan kehangatan keluargaku. Menghubungi melalui pesawat telepon tidak juga membuat emosiku redah, justru sebaliknya aku semakin rindu kepada mereka.

Satu bulan lagi Ujian Nasional dimulai. Setelah try out ke tiga, para anak kelas 12 di liburkan selama Satu minggu karena adik kelas sedang melaksanakan ujian semester. Setelah mendapat kabar itu, Aku memutuskan diri untuk berkunjung ke kota Malang menemui Ayah, Ibu dan satu adik kecilku.
“Bibi, besok Aku pergi ke Malang,” Ucapku kepada Bibiku.
“Kenapa mendadak sekali Jok?” tanya Bibi kepadaku.
“Hehehe, tadi baru dapat kebar dari sekolah kalau libur Satu minggu,”
“Apa kamu sudah bilang orang tuamu?”
“Jangan Bilang bi! Aku mau memberi kejutan kepada mereka.”
“Kalau tidak aku ijinkan bagaimana?”
“Ya, Bi. Aku mohon sudah satu tahun aku tidak bertemu orang tua ku.”
“Tapi setelah ujian kan libur panjang?”
“Iya memang.”
“Naik apa kesana?” tanya bibiku lagi.
“Kereta,” jawabku.
“Jangan pergi Jok!” suru bibiku.
“Kenapa memangnya bi?” tanyaku.
“Sebentar lagi kan Ujian, lebih baik kamu persiapkan mental. Lagi pula kemarin Bibi...” ucap Bibi sambil menunduk ke bawah.
“Bibi kenapa?” tanyaku lagi.
“Tidak apa-apa. Ah sudah Bibi mau tidur sudah malam. Pokoknya kamu tidak boleh pergi.”
***
            Jam sudah menunjukkan arah 01.30 waktu setempat. Mata masih menunjukkan kekuatannya untuk tetap aktif di kegelapan malam. Sudah diputuskan aku harus pergi, meski tanpa restu Bibiku. Segera ku ambil sebagaian baju-baju di lemari dan memasukkannya ke dalam tas ransel. ‘Biasanya kereta api berangkat jam Tiga pagi’ Tidak lupa ku tulis surat untuk Bibiku, sebenarnya bagiku menulis surat adalah hal yang sulit. Memang di mata pelajaran Bahasa Indonesia di ajar hal itu. Namun, entah kenapa aku selalu mengantuk jika pelajaran itu berlangsung. Memang aku manusia tidak bisa bersyukur, di luar sana masih banyak orang yang ingin sekolah tapi tidak bisa sekolah lantaran tidak punya biaya. Aku diberi kesempatan malah aku sia-siakan.
Tidur di jam pelajaran sudah menjadi kebiasaan, bahkan aku pernah dikeluarkan dari kelas. Kadang aku berpikir, kenapa aku tidur? Apa aku malas? Atau gaya mengajar guru yang monoton dan membuatku mengantuk. Sembari berpikir dan merangkai kata, tidak lupa ku lirik jarum jam yang tidak pernah lelah untuk bergerak.
“Sudah jam 02.00 aku harus berangkat.” Ucapku lirih. Ku letakkan surat di meja makan yang bertuliskan “Bi maafkan aku hari ini telah kecewakan bibi, aku tidak bisa membendung rasa rindu terhadap keluargaku. Aku ingin bertemu mereka, mungkin jika bibi membaca surat ini. Aku sudah berada di perjalanan. Maafkan aku iya! Tapi aku janji Bi, aku pergi Cuma 2 hari. Oh ya Bi tolong jangan bilang orang tua ku. Aku ingin buat kejutan kepada mereka.”
Tidak lupa ku intip bibi dalam kamar yang sedang tertidur pulas, “Aku berangkat Bi,” ucapku lirih. Ku keluarkan sepeda motor pemberian ayah, dan menaikinya. Dengan cepatnya ku kendarai menuju stasiun kereta yang berjarak 15 Km dari rumah Bibi. Sesampainya di stasiun ku parkir motor di tempat pemakiran. Tidak lupa ku beli tiket di loket.
“Mbak beli tiket,” ucapku.
“Tiket kemana mas?” Jawab pegawai loket.
“Jurusan Malang, kelas ekonomi mbak.”
“Rp 5000, mas.”
            Ku berikan uang kepada perempuan penjaga loket, kemudian dilanjutkan dia memberi tiket kepadaku. “Makasih mbak.”
Kulangkahkan kakiku untuk menuju bangku kosong di sudut ruang tunggu. Sesekali ku lirik jam tangan, “Sudah jam 02.30 sebentar lagi kereta datang,” ucapku lirih.


                                                                                                         BERSAMBUNG.... (jam 19.00)

No comments:

Post a Comment