Libur sekolah telah
tiba. Ingin rasanya Aku pergi untuk bertemu keluarga di Kota Malang. Jauh dari
keluarga bukanlah keinginan, namun hal ini harus dilakukan demi meneruskan
perjuangan mencari ilmu. Alasan kenapa aku berpisah dengan keluarga sangatlah
sederhana, Ayah berkerja sebagai pedagang kaki lima di sana. Ingin rasanya
selalu dekat dengan keluarga namun takdir berkata lain, aku kelas 12 SMA
sebentar lagi ujian sehingga tidak di perkenankan untuk pindah sekolah.
Disini, Di Lamongan aku
tinggal bersama Bibi. Bibi merawatku layaknya anaknya sendiri. Tahun ini
mungkin aku akan pergi ke Malang setelah Ujian Nasional, namun tidak bisa di
pungkiri aku sudah rindu dengan kehangatan keluargaku. Menghubungi melalui
pesawat telepon tidak juga membuat emosiku redah, justru sebaliknya aku semakin
rindu kepada mereka.
Satu bulan lagi Ujian Nasional
dimulai. Setelah try out ke tiga,
para anak kelas 12 di liburkan selama Satu minggu karena adik kelas sedang
melaksanakan ujian semester. Setelah mendapat kabar itu, Aku memutuskan diri
untuk berkunjung ke kota Malang menemui Ayah, Ibu dan satu adik kecilku.
“Bibi, besok Aku pergi ke Malang,”
Ucapku kepada Bibiku.
“Kenapa mendadak sekali Jok?” tanya Bibi
kepadaku.
“Hehehe, tadi baru dapat kebar dari sekolah
kalau libur Satu minggu,”
“Apa kamu sudah bilang orang tuamu?”
“Jangan Bilang bi! Aku mau memberi
kejutan kepada mereka.”
“Kalau tidak aku ijinkan bagaimana?”
“Ya, Bi. Aku mohon sudah satu tahun aku
tidak bertemu orang tua ku.”
“Tapi setelah ujian kan libur panjang?”
“Iya memang.”
“Naik apa kesana?” tanya bibiku lagi.
“Kereta,” jawabku.
“Jangan pergi Jok!” suru bibiku.
“Kenapa memangnya bi?” tanyaku.
“Sebentar lagi kan Ujian, lebih baik
kamu persiapkan mental. Lagi pula kemarin Bibi...” ucap Bibi sambil menunduk ke
bawah.
“Bibi kenapa?” tanyaku lagi.
“Tidak apa-apa. Ah sudah Bibi mau tidur
sudah malam. Pokoknya kamu tidak boleh pergi.”
***
Jam
sudah menunjukkan arah 01.30 waktu setempat. Mata masih menunjukkan kekuatannya
untuk tetap aktif di kegelapan malam. Sudah diputuskan aku harus pergi, meski
tanpa restu Bibiku. Segera ku ambil sebagaian baju-baju di lemari dan
memasukkannya ke dalam tas ransel. ‘Biasanya
kereta api berangkat jam Tiga pagi’ Tidak lupa ku tulis surat untuk Bibiku,
sebenarnya bagiku menulis surat adalah hal yang sulit. Memang di mata pelajaran
Bahasa Indonesia di ajar hal itu. Namun, entah kenapa aku selalu mengantuk jika
pelajaran itu berlangsung. Memang aku manusia tidak bisa bersyukur, di luar
sana masih banyak orang yang ingin sekolah tapi tidak bisa sekolah lantaran
tidak punya biaya. Aku diberi kesempatan malah aku sia-siakan.
Tidur di jam pelajaran
sudah menjadi kebiasaan, bahkan aku pernah dikeluarkan dari kelas. Kadang aku
berpikir, kenapa aku tidur? Apa aku malas? Atau gaya mengajar guru yang monoton
dan membuatku mengantuk. Sembari berpikir dan merangkai kata, tidak lupa ku
lirik jarum jam yang tidak pernah lelah untuk bergerak.
“Sudah jam 02.00 aku
harus berangkat.” Ucapku lirih. Ku letakkan surat di meja makan yang bertuliskan
“Bi maafkan aku hari ini telah kecewakan
bibi, aku tidak bisa membendung rasa rindu terhadap keluargaku. Aku ingin
bertemu mereka, mungkin jika bibi membaca surat ini. Aku sudah berada di
perjalanan. Maafkan aku iya! Tapi aku janji Bi, aku pergi Cuma 2 hari. Oh ya Bi
tolong jangan bilang orang tua ku. Aku ingin buat kejutan kepada mereka.”
Tidak lupa ku intip
bibi dalam kamar yang sedang tertidur pulas, “Aku berangkat Bi,” ucapku lirih. Ku
keluarkan sepeda motor pemberian ayah, dan menaikinya. Dengan cepatnya ku
kendarai menuju stasiun kereta yang berjarak 15 Km dari rumah Bibi. Sesampainya
di stasiun ku parkir motor di tempat pemakiran. Tidak lupa ku beli tiket di
loket.
“Mbak beli tiket,” ucapku.
“Tiket kemana mas?” Jawab pegawai loket.
“Jurusan Malang, kelas ekonomi mbak.”
“Rp 5000, mas.”
Ku
berikan uang kepada perempuan penjaga loket, kemudian dilanjutkan dia memberi
tiket kepadaku. “Makasih mbak.”
Kulangkahkan kakiku untuk menuju bangku
kosong di sudut ruang tunggu. Sesekali ku lirik jam tangan, “Sudah jam 02.30
sebentar lagi kereta datang,” ucapku lirih.
BERSAMBUNG.... (jam 19.00)
BERSAMBUNG.... (jam 19.00)

No comments:
Post a Comment